Saturday, 9 February 2013

Hati-hati Kalo Bilang ‘Ciyus Miapah’

DI USIA muda kayak kita ini, yang lagi gemilang bin punya semangat yang tinggi. Kita rajin bener buwat nyari jati diri, mengembangkan potensi dan ngotak-atik karakter diri. Hmm, dengan berbagai cara. Bisa jadi dibenarkan syariat tapi sayang kebanyakan sih nggak. Apapun dilakukan dan diucapkan biar keliatannya lebih keren dan gaul. Ikut-ikutan latah tapi nggak ngeh makna dan arti dibalik semuanya. Seperti kata-kata ini, ‘ciyus miapah?’ Hati-hati lho, ungkapan ‘ciyus miapah’ ini sampe dikomentarin ama dokter kejiwaan. Waduh, kenapa ya? Mungkin dengan mengatakan ungkapan itu kita keliatan lebih imut dari usia kita yang sebenarnya. Karena kelihatan keren, banyak yang kemudian ikut-ikutan dan sekarang gampang banget nemuin orang bilang ‘ciyus miapah’ di mana aja. Nah, kecenderungan buwat ikut-ikutan, kadang tanpa tau maknanya sering dilabeli dengan istilah ‘alay‘ yang konon merupakan singkatan dari anak layangan. Sama kayak ‘ciyus miapah‘ sebenarnya, istilah alay juga produk ikut-ikutan karena nggak jelas apa maknanya. dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K) dari RS Jiwa Soeharto Heerdjan Grogol punya komentar tersendiri dengan fenomena ini. “Jika bangga dengan predikat alay itu yang krisis identitas karena dia tidak bisa menentukan pilihan, jadi hanya sekadar mengikuti mainstream supaya diakui teman-teman,” kata dr Suzy yang bidang spesialisasinya adalah psikiatri anak dan remaja, seperti ditulis detikHealth, Rabu (24/10/2012). Emang berlebihan banget kalo dimasukin ke dalam kategori gangguan jiwa, tapi krisis identitas tadi bisa memicu kesana lho. Terutama mereka yang ngalamin krisis identitas gara-gara latar belakang emosional, contohnya aja gampang cemas en nggak percaya diri. Atawa bisa jadi gara-gara ortu kita ngebolehin apa aja yang kita mau. Jadinya kita nggak punya tameng alias pertahanan buwat ngadepin permasalahan saat bersosialisasi. Biasanya anak muda yang ngalamin krisis identitas cenderung lebih labil, mudah ikut-ikutan dan terpengaruh oleh lingkungan. Walopun nggak selalu jadi gangguan jiwa berat kayak skizofrenia, faktor risiko ini bisa micu gangguan jiwa lainnya seperti gangguan emosi atawa tingkah laku. Tawuran adalah salah satu contoh konkretnya. Nah, makanya buwat kamu-kamu yang masih suka ngekor alias jadi pengekor. Segera hentikan. Mending sih kalo ngekor (ikut melakukan) kebaikan, dapet pahala dari Allah dan itupun kita harus paham atawa minimal tau perintahNya. Lha kalo ngekor keburukan atawa sesuatu yang nggak jelas juntrungannya, cape iya aneh juga iya. [dava/detikhealth]

No comments:

©