Wednesday, 23 January 2013

Ada Sebatang Lilin Untuk Dinyalakan



Umumnya, kaum muslimin memandang era kegelapan (jahiliyyah) hanya terjadi di masa lampau sebelum kedatangan Rasulullah saw. Akan tetapi Nabi saw. mengingatkan bahwa era kegelapan bukanlah sesuatu yang tidak akan terulang. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah oleh Imam Muslim, Beliau mengingatkan akan terjadinya masa penuh kegelapan  yang berisi fitnah;
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. (Saat itu) di pagi hari seseorang beriman tapi di sore harinya ia menjadi kafir. Di sore hari seseorang beriman tapi di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamanya dengan harta dunia.”
Dan tidak ada kegelapan yang sedemikian berat melainkan saat kaum muslimin kehilangan kekuatan yang melindungi dan mengamankan urusan umat,  yakni hancurnya Khilafah Islamiyyah. Dengan upaya yang kotor dan keji, Inggris lewat kaki tangannya Musthofa Kamal at-Taturk, mengeksekusi khilafah dan membangun sistem haram sekulerisme di tanah kaum muslimin.
Semenjak itu berbagai guncangan – meski sekecil apapun – hampir-hampir tidak bisa diselesaikan oleh umat. Bahkan hingga masalah yang menggerogoti akidah seperti kemusyrikan tak bisa dibersihkan dari tubuh umat hingga tuntas. Inilah kegelapan yang luar biasa. Kebenaran dipandang sebagai kebatilan, dan kebatilan sendiri dipuja sebagai sebuah kebenaran. Kaum pendusta dibenarkan dan dielu-elukan sedangkan para pengusung kebenaran didustakan.
Ibnu Majah meriwayatkan dalam sunannya. Dia berkata: Telah berbicara kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah; telah berbicara kepada kami Yazid bin Harun; telah berbicara kepada kami Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi, dari Ishak bin Abu Furat, dari al-Maqburi, dari Abu Hurairah. Dia berkata: Bersabda Rasulullah SAW:
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ. يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ. وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ. وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ في أَمْرِ الْعَامَّةِ .

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh para penipu. Ketika itu orang yang dusta dibenarkan, dan sebaliknya orang yang benar didustakan; orang yang berkhianat diberi amanat, dan sebaliknya orang yang dapat dipercaya dikhianati. Ketika itu yang berbicara adalah ar-Rawaibidhah.” Beliau ditanya: “Siapa ar-Rawaibidhah itu?” Beliau bersabda: “Ar-Rawaibidhah adalah orang bodoh dan tolol yang diserahi untuk mengurusi urusan umat.”
Meski demikian, para pejuang kebenaran janganlah terjebak pada logika ‘all or nothing’. Melakukan generalisasi bahwa tidak ada satupun tanggung jawab atau beban yang bisa dan harus kita selesaikan saat ini. Di tengah kegelapan seperti ini tetap ada lilin yang harus dinyalakan.
Para pejuang kebenaran juga tidak sepantasnya melemparkan semua kesalahan yang ada karena musnahnya payung pelindung umat. Di tengah kegelapan ini tetap ada bagian-bagian yang kita juga bertanggung jawab atas akumulasi kerusakan yang ada. Pada bagian itu berikhtiar mencari jawabannya menjadi kewajiban kita saat ini, tanpa perlu menunggu kedatangan khilafah rasyidah yang dijanjikan Allah SWT. dan RasulNya.
Ketika seorang hamalatud da’wah menyalahkan semua keburukan yang ada karena semata ketiadaan khilafah, ia telah terjebak pada kejumudan. Ia telah kehilangan syariat sebagai pedoman hidup dan perjuangannya. Bagaimana bisa seorang pejuang syariat menyalahkan semuanya pada ketiadaan khilafah ketika ia misalnya tidak bisa membangun rumah tangga yang Islami. Ia pun kembali menyalahkan sistem kufur ketika tidak mampu mendidik anak-anaknya, tanpa terlebih dahulu melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri; apa yang telah ia lakukan untuk menyelamatkan mereka.
Sesungguhnya ini adalah racun pemikiran yang amat membahayakan. Situasi ini akan membuat seorang muslim terbuai angan-angan bahwa semua masalah akan selesai manakala janji Allah terwujud. Padahal Allah sendiri telah memberikan taklif kepada setiap muslim yang bisa dan harus dikerjakan secara individual, tanpa perlu menunggu kondisi yang lain. Khilafah adalah satu hal, dan kewajiban individual – yang telah Allah amanatkan – adalah suatu hal yang lain pula.
Para pejuang kebenaran harus segera merevisi cara pandang mereka. Bahwa di tengah kegelapan ini tak ada sebatang lilin pun yang bisa dinyalakan. Sebenarnya ada dan berbatang-batang lilin masih bisa dan harus segera kita nyalakan di tengah kegelapan ini. Meski tentu akan jauh lebih mudah ketika payung besar milik umat ini ada, akan tetapi kita tetap harus menyalakannya saat ini pula. Untuk itu Nabi saw. menjanjikan ganjaran yang amat besar atas amal kita menyalakan lilin-lilin dien ini. Karena itu memang kewajiban setiap muslim untuk melakukannya.
“Nanti di akhir zaman akan terdapat “Didan al-Qurra”[1]. Siapa saja yang hidup di zaman itu, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk dan dari mereka (Didan al-Qurra). Mereka adalah orang-orang yang berbau busuk. Kemudian akan bermuculan berbagai jenis penutup kepala dan jubah, maka manusia sudah tidak lagi merasa malu dari riya. Orang yang berpegang teguh pada agamaku saat itu bagaikan orang yang menggenggam bara api. Orang yang berpegang teguh pada agamanya pahalanya seperti pahala lima puluh orang. Para sahabat berkata, “Apakah lima puluh itu dari mereka atau dari kami?” Rasulullah saw. bersabda, “Dari kalian.”(HR. Tirmidzi)

No comments:

©