Wednesday, 5 December 2012

The Traitor

Oleh: Saefullah
Yayan duduk terdiam lemas, sesekali wajahnya menatap murung ke luar jendela, sementara aku hanya duduk diam, dengan wajah yang seikhlas mungkin menjadikan diri sendiri sebagai orang yang benar-benar ia perlukan.
“Jadi begitulah, De,” Yayan berkata, masih dengan suara lirih, “Aku tau, aku udah berbuat kesalahan. Tapi Rini juga muna, lah….”
Aku mengernyitkan dahi, “Maksud kamu? Munafik gitu?”
Yayan mengangkat bahunya, sambil sedikit mencibirkan mulutnya, “Hmm, ya.. kalo dia nggak suka sama aku, okelah, tapi….” ia menghentikan kata-katanya, mungkin berharap aku mengatakan kata.
“Tapi apa?” ujarku akhirnya.
“Pada awalnya, ia selalu aja menghindari aku…”
“Sebentar,” aku memotong, “jujur kepadaku, sejak kapan kamu suka sama Rini? Dan sejak kapan kamu mengejar- ngejar dia?”
Yayan terdiam, ia malah balik menatapku lurus namun lemah, “Janji kamu nggak bakalan cerita sama siapapun? Terutama sama temen-temen rohis kita?”
Aku tergelak kecil, “Yan, sejak kapan kamu nggak percaya sama aku? C’mon man….”
Yayan menggaruk-garuk kepalanya, “Afwan bukan begitu…. Aku cuman bakalan ngerasa malu aja kalo temen- temen yang lain juga tau kalo aku diam- diam naksir Rini….”
Aku mengangkat bahu, “Well…..”
“De, aku suka sama Rini tuh udah lama banget. Sejak ketemuan pertama kali di Rohis di kelas 1 dulu. Dua taon setengah yang lalu. Tapi aku baru bener-bener ngedeketin dia sekitar lima bulan yang belakangan ini aja….”
“Halah, dan ente nggak cerita sama aku?” aku sedikit meradang.
Yayan menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. “Ketika itu, kayaknya hampir nggak mungkin aku menceritakan hal itu sama siapapun. Termasuk kamu sekalipun. Apa jadinya kalo orang tau, kalo aku—ketua rohis sekolah—naksir ketua keputriannya?”
Aku menelan ludah, “Tapi aku kan sahabatmu, Yan…”
“Please deh, coba kamu pahami situasi dan posisiku saat itu. Jujur aja, gilanya aku memang sudah punya niatan kalo aku bakalan bilang atau meminta dia…”
Aku mengernyitkan dahi, menunggu perkataannya.
“Maksudku, aku, sejak dari dulu itu memang udah niat mau nembak, ngomong ke Rini kalo aku suka sama dia….”
“Dan kalian mau pacaran gitu?”
Yayan masih menggaruk-garuk kepalanya, “Ya nggak gitu juga, De. Maksudku, seperti pendapatmu, meminta dia untuk jadi calon istri gitu lah…”
Aku menarik nafas.
“Yah, aku tau aku salah. Calon istri sama pacaran sama TTM-an apalah bedanya yak? Pada praktiknya gitu-gitu juga. Cuman emang sih karena akunya ketika itu bener-bener ngebet sama Rini, jadi deh….”
“Dan?”
“Dan puncaknya seminggu lalu, De. Tapi please deh, kamu jangan terlalu ngehukum aku sedemikian rupa. At least, aku jadi belajar juga…..”
“Maksud kamu?”
Yayan sekarang duduk di tempat tidurku.
Tangannya menjulur mengambil buku 24 Wajah Billy karya Daniel Keyes kepunyaanku yang tak jauh darinya.
“Yah, ternyata oh ternyata….”
“Apa?” ujarku pelan.
“Pada awalnya Rini selalu bilang sama aku…., bahwa jika ia mengiyakan, maka jadinya kita bakalan pacaran.”
“Trus?”
“Trus, ketika aku kejar lagi bahwa kita bakaaln diem-diem aja, ia bilang, ia pengen konsentrasi sama pelajaran, lah. Ketika aku kejar lagi, ia ngeles lagi, ia bilang gawat banget kalo ketauan sama ortunya. Begitu terus macem-macem alesannya, De…”
Aku terdiam, memandangi wajahnya yang tampak capai, namun sedikit berseri- seri.
“Pada akhirnya Rini ngaku juga ketika kesekian kalinya aku kejar dia. Kamu pasti berpikir, aku ini nggak punya malu ya, ngejar-ngejar dia segitunya? Emang, kalo inget itu masa-masa itu, mendingan aku nggak ada deh.”
“Ngaku… apa dia?” tanyaku hati-hati.
“Man, siapa coba yang nggak ngiler sama Rini sih? Dia tuh cakep, jilbabnya gede, mobilitas dakwahnya tinggi, pemaha- mannya juga patut diacungin jempol, jago bahasa Inggris dan matematika, ortunya kaya… apa nggak lengkap tuh, walah….”
“Hey,” Aku memotong, “Jangan ngelantur. Ngaku apa dia?”
Yayan berbalik memandangi aku, “Yang bikin aku ngerasa kerdil, ngerasa ngaco berat, dan juga sekaligus tersadar, adalah ketika pada akhirnya…”
“Ya?”
“Ketika pada akhirnya ia ngaku juga kalo, kalo, sebenernya…..” Yayan berhenti lagi.
“Sebenernya apa?”
“Kamu janji nggak bakalan cerita sama siapapun lagi? Karena ini juga menyangkut aib orang lain, aib Rini…”
Aku menatap lurus wajahnya, kemudian mengangguk lemah.
“Oke, katanya, katanya….. Ia udah sejak satu setengah taon yang lalu udah, udah punya…. seseorang yang kayak tadi yang aku katakan tadi.. calon suami, or whatever lah…..”
“Maksud kamu, Yan?”
“Yah, ternyata Rini emang udah punya seseorang yang spesial juga lah kayak gitu. Ketika aku desak siapa sih orangnya? Ia berkata aku nggak perlu tau…”
“Then?”
“Oke lah, itu cukup fair juga untuk menghajar aku begitu telak. Aku juga nggak interested lagi buat nanya-nanya. Tapi kupikir sih siapapun tuh pacarnya atawa calon suaminya Rini yang bisa jadi nggak bakalan jadi sampe ke pernikahan he he he, kayaknya sih udah mahasiswa dan tinggal di kota lain….”
Aku terdiam. Lama. Menarik nafas lega. “Kenapa kamu berpikiran seperti itu?”
“Yah, menghibur diri aja sih. Tapi De, tau nggak peristiwa itu bener-bener nampar, nyadari aku luar-dalem. Ya Allah, penolakan Rini itu bisa jadi teguran buat aku. Peringatan buat aku. Kebayang kalo aku bener-bener jadian sama Rini dan orang-orang pada tau. Rohis bisa-bisa mati….”
Aku masih mendengarkan Yayan mengucapkan kalimat-kalimat panjang lainnya. Sore menjelang magrib, ia pulang. “Besok jangan lupa. Pulang sekolah, kita rapat buat acara bada Ramadhan yang akan datang!”
Aku mengangkat bahu. “You’ve got me!”
Sehabis magrib, aku mengambil HP. Mengirim SMS. “Aslmlkm. Mulai bsk kyaknya kta nggak usah ktemuan dlu. Klo adan apa2 lbh baik lwt tel atwa sms aja. Sya ngrsa hbngan kta mngkn bhnti dlu. Sbntar lgi kta sma2 mau ujian. Ini nmor bru sya. Plse, jngn hubngi atwa krim sms ke nmor yg biasa. Dede.”
SMS itu kukirim untuk Rini. []

No comments:

©