Monday, 3 December 2012

Belajar Dari Anak Pohon



anak pohonOleh: Evyta Ar, Penulis asal Medan dan lulusan dari Universitas Sumatera Utara ini kini bekerja di Imwah (Indonesian Muslimah Work at Home). Selain itu juga bekerja di Perpustakaan Online dan Pustaka Hanan. 
DI POJOK sebuah teras, sebatang anak pohon mungil begitu nyaman dengan rumah barunya. Sudah beberapa hari ini ia berpisah dengan induknya, sebab anak pohon memang harus mandiri begitu memiliki akar dan daun sendiri.
Selama dua hari kondisi si anak pohon sangat segar, memberikan harapan baru kepada si empunya bahwa ia akan tumbuh subur hingga kelak dewasa. Malang bagi si anak pohon, keesokan harinya ia meranggas. Daun yang sebelumnya hijau segar kini menguning, kering dan layu.
Selidik punya selidik, ternyata ada seseorang yang menggeser letaknya hingga terkena panas seharian. Karena lengah dan kurang memperhatikan, si empunya tidak tahu-menahu tentang kejadian itu. Anak pohon yang tadinya belum siap menerima panas akhirnya terkejut dan stress. Kini ia sedang berada dalam perawatan khusus agar tunas-tunas harapannya kembali muncul dan mekar. Ternyata tak hanya manusia saja yang bisa stress, ya? Tanaman pun bisa!
Sementara itu, di pojok sebuah ruangan yang lain, beberapa anak pohon yang masih kecil juga sedang belajar tumbuh. Mereka berasal dari potongan-potongan batang pohon sang induk. Meskipun akar mereka masih sedikit, tapi semangat hidup mereka begitu tinggi.
Daun yang mungil kian hari kian besar dan bertambah hijau. Pucuk-pucuk kehidupan mulai bermunculan. Betapa bahagianya yang melihat proses pertumbuhan para anak pohon. Mereka bergerombol dan merasa nyaman ditempatkan di wadah kecil yang terlindung dari panas. Tapi dalam waktu dekat, anak-anak pohon ini harus mulai belajar merasakan hangatnya sinar matahari pagi agar pertumbuhannya semakin bagus.
Untuk belajar mendapatkan cahaya matahari, anak-anak pohon harus melewati proses pembelajaran. Semua ada tahapnya, mereka tidak boleh langsung dihadapkan menantang sang surya sebab mereka tidak akan kuat!
Si empunya harus menyiapkan area yang pas dengan naungan yang cukup baik agar anak-anak pohon ini bisa nyaman berada di pelukan sinar matahari pagi. Jika mereka sudah terbiasa, selanjutnya mereka harus belajar beradaptasi dengan panas yang lebih tinggi. Jika saatnya telah tiba untuk mereka mandiri, tentu para anak pohon akan siap menantang panasnya cuaca dan guyuran hujan, meski tanpa naungan.
Perjalanan mereka belum berhenti sampai di situ. Si empunya harus memperhatikan mereka dengan seksama dari jangkauan hama dan pengganggu. Pengaruh lingkungan pun bisa memberikan dampak bagi pertumbuhan remaja mereka. Jika mereka sudah dewasa dan berbuah, sesekali juga masih perlu mendapatkan perhatian agar buah yang mereka hasilkan lebih optimal.
Selanjutnya, anak pohon yang sudah dewasa akan siap mengorbankan dirinya kembali untuk memberi kehidupan baru agar keturunan mereka terus berlangsung. Tapi jangan kau kira pohon dewasa itu akan mati jika berkorban, mereka justru akan semakin subur dan memberikan tunas-tunas dan cabang baru. Luar biasa! Siklus hidup mereka kemudian akan kembali ke awal lagi, dan begitu seterusnya.
Kau tahu? Merawat pohon itu seperti merawat anak manusia, bedanya, anak manusia akan mengadukan apa yang ia rasakan secara verbal dan visual, dengan begitu para orangtua langsung tahu apa yang harus dilakukan.
“Ma, di sini panas.”
“Ayah, haus….”
“Bunda, tanganku sakit…”
Sementara pohon? Mereka tak bisa berbahasa verbal layaknya manusia. Jika kau tempatkan ia di tempat panas, padahal ia belum siap menerimanya, ia tak akan mengadu padamu kalau ia kepanasan. Kau hanya bisa melihat efek visualnya saja, seperti daunnya yang menunduk dan layu. Jika ia sakit terkena hama, ia pun tak akan mengadu kesakitan padamu. Si empunya lah yang harus membuka mata dan hati untuk bisa melihat secara jeli apa yang sedang dihadapi anak pohon dan sesegera mungkin melakukan tindakan lanjut.
Merawat pohon itu seperti merawat anak manusia, butuh kasih sayang, kelembutan, kesabaran dan perhatian lebih. Mereka membutuhkan nutrisi yang lengkap agar sehat, tempat bernaung yang memadai, pembelajaran yang bertahap, serta komunikasi yang tepat.
Eh, komunikasi? Ya, komunikasi. Jangan kau kira pohon tak bisa mendengar, ya! Meskipun tidak memiliki telinga seperti manusia, entah bagaimana caranya, mereka bisa mendengar. Tentu kau pernah mendengar atau membaca berbagai penelitian terhadap efek pertumbuhan tanaman bila mereka diperdengarkan musik yang lembut. Hasil produksi buahnya konon jauh melebihi normal. Seperti itu juga halnya dengan pupuk dan air, jika diberi dalam porsi yang tepat, anak pohon akan tumbuh sehat dan kuat, hingga kelak mereka akan menghasilkan keturunan-keturunan yang berkualitas.
Lewat sebatang anak pohon, manusia bisa belajar tentang merawat dan mendidik anak. Meskipun tumbuh-kembangnya bergantung pada ketentuan Tuhan Yang Maha Menghidupkan, namun bagi yang merawat tetap harus berjuang dan berusaha agar anak-anak mereka menjadi anak yang baik, sehat dan mandiri. Jika anak pohon saja membutuhkan perawatan yang lengkap, bagaimana lagi dengan seorang anak manusia?

No comments:

©