Sunday, 2 December 2012

FILSAFAT: Iblis dan Setan Lebih Jujur daripada Manusia?


BETAPA sulit mencari orang yang jujur. Secara fisik tampilannya alim, sopan santun, ramah, cerdas, rajin beribadah, tetapi belakangan diketahui dia seorang koruptor, penipu dan kriminal. Ternyata, di balik wajah manusianya, tersembunyi perilaku setan yang tidak baik.
Malahan ada yang mengatakan, setan lebih jujur daripada manusia:
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada iblis/setan, “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis/setan segera menjawab, “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
”Siapa selanjutnya?”
”Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
”Lalu siapa lagi?”
”Orang Alim dan wara’ (Loyal).”
”Lalu siapa lagi?”
”Orang yang selalu bersuci.”

Filsafat kejujuran:
1.Kejujuran tidak selalu baik
Sesungguhnya kehidupan ini selalu terbagi dari dua kategori secara ekstrim. Ada siang ada malam. Ada panas ada dingin. Ada pandai ada bodoh. Ada cepat ada lambat. Demikian juga dengan kejujuran. Ada kejujuran yang baik dan ada kejujuran yang tidak baik.
2.Kejujuran iblis/setan tidak baik
Walaupun iblis/setan jujur, namun motivasi ataupun tujuannya tidak baik, yaitu membenci umat penganut Nabi Muhammad SAW juga mempengaruhi manusia untuk berbuat tidak jujur.
3.Kejujuran iblis/setan
Jadi, iblis/setan memang jujur. Dia jujur mengatakan bahwa tugasnya di dunia adalah mempengaruhi manusia untuk tidak berbuat tidak jujur. Antara lain berbohong, korupsi, suap, sogok, pungli, memeras, nepotisme, kolusi, menipu dan perbuatan kriminal lainnya.
Catatan:
Artikel ini artikel filsafat dan mohon dipahami dari sudut ilmu filsafat juga. Sebab jika ilmu filsafat dipahami dari ilmu lain akan terjebak pada kesimpulan yang keliru (category logic error).

No comments:

©