Monday, 3 December 2012

Duniamu Juga Duniaku, Duniaku Juga Duniamu

Oleh Kartika Trimarti*

Perbedaan tak bisa dipaksakan untuk jadi kesamaan. Namun, penghargaan, kasih sayang, dan ketulusan tetap dapat terwujud dengan pengertian.
Dalam sebuah kesempatan makan malam bersama, seorang teman bercerita tentang suaminya. Ia sangat mencintai sang suami yang menurutnya selalu mendukung apapun aktivitasnya. Bahkan, ketika ia memutuskan untuk membuka rumah makan pun, sang suamilah orang pertama yang menyokongnya secara finansial. Akan tetapi, ia seringkali merasa sendirian.
Meskipun sang suami memberinya kebebasan untuk melakukan apapun yang disukainya, tetapi suaminya tak pernah terlihat nyaman ketika menemaninya beraktivitas. Apalagi, bila aktivitas tersebut dilakukan bersama teman-temannya, sang suami lebih sering memilih memisahkan diri dan berulangkali mengajaknya pulang.
Akhirnya, teman tersebut memang lebih sering terlihat sendiri. Begitupun dengan suaminya. Sebuah ironi yang seringkali terlihat, terutama pada pasangan yang telah lama menikah. Benarkah mereka sudah saling memahami hingga memberi kesempatan untuk masing-masing pasangan untuk menikmati dunianya sendiri? Semoga bukan karena alasan “sudah tak sehati”.
Memang Berbeda
Saat mengikatkan diri dengan akad, setiap pasangan pasti datang dengan latar belakang yang berbeda. Sekalipun sama-sama satu profesi –yang menurut kebanyakan orang akan lebih memudahkan untuk saling memahami- setiap orang tetap memiliki latar belakang dan keunikan yang yang berbeda.
Namun, pernahkah kita pikirkan bersama, bahwa Allah begitu hebatnya dalam mempersatukan hamba-hamba-Nya berpasangan-pasangan dalam ikatan pernikahan?
Dengan sekian panjang deret perbedaan tetapi kemudian menyatakan bersedia bersama dalam perbedaan. Kesediaan inilah yang ditumbuhkan dalam diri manusia hingga akhirnya kedua belah pihak bersedia menjalani masa penyesuaian. Adaptasi, begitulah kira-kira, di awal-awal masa pernikahan. Ke manapun pasangannya pergi, maka ia pun akan mengiringi. Perbedaan sebesar apapun, dicoba untuk dipahami.
Lalu, apakah yang sebenarnya terjadi, bila kemudian, ketika umur pernikahan telah melalui tahun-tahun penyesuaian, justru yang ada adalah keengganan untuk bersama? Atau karena telah merasa, yaa… itulah perbedaan di antara kita?
Sejatinya, perbedaan memang selalu ada. Di awal atau di akhir perkawinan, perbedaan itu tetap memiliki asal kata yang sama. Beda.
Di awal pernikahan, kita seringkali memaksakan diri untuk menjadi sama. Agar bisa bersama, dengan ambisi yang besar, kita ingin semua sama. Pergi ke mana-mana bersama, memilih untuk menggunakan layanan selular yang sama, sampai baju pun dibuat seragam. Hingga akhirnya memaksakan kehendak untuk membuat keputusan-keputusan yang sama.
Inilah yang akan membuat kita akhirnya pun sama-sama frustasi dan terpojok oleh kenyataan bahwa setiap pribadi memang berbeda. Lalu membiarkan perbedaan itu menjadi dua kubu yang saling membelakangi. Tak ada kebersamaan karena memang kita punya dunia yang berbeda. Duniamu adalah duniamu, duniaku ya duniaku.
Menjembatani Perbedaan
Perbedaan memang tak bisa jadi persamaan, tetapi perlu ada sebuah jembatan yang akan membuat dua dunia jadi bergandengan. Sehingga apa yang sudah dipahami dan dipelajari selama masa-masa penyesuaian, tidaklah buyar begitu saja. Pentingnya jembatan itu, karena menyamakan perbedaan tentu tak akan bisa.
Biarkanlah dia menjadi dirinya dan kita menjadi diri kita sendiri. Penghargaan atas keistimewaan dan keunikan masing-masing adalah penghargaan terbesar bagi masing-masing pribadi. Cobalah untuk mengerti apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh masing-masing pribadi, maka ia akan menjadi orang yang juga berusaha untuk mengerti kita. Minimal, kita sudah dapat beradaptasi dengan dirinya.
Pengertian inilah yang akan menjembatani dua kubu yang berbeda. Pengertian akan menumbuhkan rasa aman dan nyaman dalam diri pasangan. Aman untuk tetap berada dalam keunikan diri sendiri, aman untuk tetap beraktivitas sesuai keinginan, dan nyaman untuk melakukannya dengan leluasa. Tak perlu melakukannya bersama, asalkan ada hal yang dapat dibagi ketika bersama pasangan, maka itu cukup untuk membuatnya merasa bahwa Anda tetap mengingat dan menghargainya.
Berupayalah untuk tetap memberikan yang terbaik untuknya, walau mungkin kita belum mengenal “dunianya”. Bila memang ia suka sekali berkumpul dengan teman-temannya untuk sekadar mengutak-atik otomotif, maka biarkan ia memiliki waktu untuk hobinya. Sementara itu kita mempersiapkan hal-hal yang diperlukannya untuk hobi tersebut. Mungkin tak perlu menunggunya usai dan biarkanlah dirinya menikmati waktunya tersebut.
Mempersiapkan dan membiarkannya menikmati hobinya, merupakan jembatan yang kita ulurkan untuk bergandengan dengan dunia kita. Sementara meninggalkannya sejenak, membuat diri kita pun memiliki waktu untuk kesibukan kita sendiri tanpa sama sekali tak mengacuhkannya. Kelak, ia pun akan menghargai dunia yang telah terbangun dalam diri kita dan tetap berusaha memberikan yang terbaik.
Apa Adanya
Kenyamanan seperti itu pasti tak akan mudah didapatkan dan membutuhkan perjuangan. Namun, perjuangan untuk saling mendukung dan menghormati dalam keunikan yang kita miliki itulah yang kelak akan melahirkan ikatan pengertian, kasih sayang, dan ketulusan yang luar biasa. Bahkan seseorang bisa jadi terdorong untuk lebih mengetahui dunia pasangannya karena ikatan tersebut. Sehingga perbedaan yang ada bukanlah lagi hal yang meresahkan. Apalagi, alasan untuk memisahkan dunia yang dijalani hingga merasa perlu untuk tidak peduli lagi pada pasangannya.
Allah berfirman dalam surat An-Nisaa’ [4] ayat 19, “… dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.”
Betapa pun besarnya perbedaan tersebut, tetaplah berprasangka baik, bersabar, dan menjadi bagian yang penting dari dunianya. Maka, kebaikan yang akan kita jemput tentu adalah kebaikan yang besar. Termasuk, kebaikan dari mencintainya apa adanya. Bahwa dia adalah seorang manusia biasa yang memiliki kebaikan yang kita harapkan dan kekurangan yang harus kita lengkapi. Tak bisa sekadar mencintai sisi baiknya, tetapi juga menerima dan memperbaiki sisi buruknya. Tak ada modal yang bisa lebih kuat membuat kita teguh menjalaninya kecuali kecintaan kita pada Allah semata. Sebagaimana sabda Rasul-Nya, “Paling kuat tali hubungan keimanan adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (Riwayat Thabrani) *Ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat. SUARA HIDAYATULLAH SEPTEMBER 2012

No comments:

©