Sunday, 2 December 2012

BERGURU TAUHID KEPADA IBLIS



“Pergilah !! Belajar bagaimana cara pengabdian Iblis
Pilihlah hanya satu Qiblat untuk disembah
Jangan bersujud kepada yang lain”.
(Sarmad al-Maqtul)
Konon, pada waktu  selesai penciptaan Adam dan peniupan ruh, Tuhan memerintahkan kepada  malaikat dan Iblis untuk bersujud kepadanya. Para  malaikat yang memang tidak mempunyai kehendak, patuh dan melakukan sujud kepada Adam, sedangkan Iblis menolak perintah Tuhan tersebut. 

Keengganan Iblis  untuk sujud kepada Adam ini, terekam  dalam  ayat-ayat al-Qur’an, seperti  Surat al-Baqarah: 34, al-A’raf: 11, al-Hijr: 29, al-Kahfi: 50, Taha: 116 dan Shad: 72.   Selanjutnya Iblis dihukum oleh Tuhan keluar dari surga  dan “diberi tugas baru” sebagai penggoda dan penguji keimanan manusia di dunia. Sejak itulah dimulai perang abadi antara  kebaikan
dengan keburukan, antara kerendahan hati dengan arogansi, dan antara cinta kasih dengan kedengkian. Nur Ilahiyah bertempur dengan syahwat syaithaniyah dalam diri manusia.

        Wacana pengingkaran Iblis untuk sujud kepada Adam ini,  ternyata tidak dipandang negatif oleh  beberapa kalangan, khususnya para sufi. al-Hallaj dan murid-muridnya misalnya, berpendapat Iblis lebih suka  mematuhi kehendak abadi Tuhan yaitu tidak boleh seorang pun  bersujud di hadapan apa saja kecuali hanya kepada-Nya, daripada  perintah yang diberikan-Nya untuk bersujud kepada Adam. Terjebak di antara dilema kehendak abadi Tuhan dan perintah Tuhan, Iblis tampil sebagai tokoh yang tragis memilih kehendak abadi Tuhan, sehingga seakan dia “membangkang” Tuhan.

Namun “pembangkangan” Iblis ini, malah menjadikan dia sebagai contoh monotheis  dan pecinta sejati. (Schimmel, 1963: 208). Monotheis sejati karena Iblis tidak pernah bersujud  kepada selain Dia, meskipun terpaksa mengabaikan perintah-Nya. Maka, tidak mengherankan kalau Ahmad Gazali berani mengatakan: “Barang siapa yang tidak belajar tauhid dari Iblis maka dia adalah kafir”. (Swartz, 1971: 221). Lebih dari itu, menurut al-Hallaj hanya ada dua monotheis sejati di dunia, yaitu Muhammad dan Iblis, akan tetapi Muhammad dirahmati Tuhan, sedangkan Iblis dimurkai Tuhan.  Kemudian Iblis disebut pecinta sejati, karena lebih suka menerima kutukan kekasihnya  daripada menyangkal kehendaknya.  

Kutukan kekasihnya (Tuhan) lebih bernilai seribu kali daripada memalingkan muka dari-Nya  kepada sesuatu yang lain. Kemurkaan Tuhan  adalah kemurahan di balik malapetaka dan kesakitan serta hukuman  Tuhan yang diberikan pada pecintaNya adalah kebaikan bagi perkembangan jiwa laksana obat yang rasanya pahit tetapi menyembuhkan bagi pasien yang sakit.  Di sinilah Iblis menjadi  contoh dari kekasih yang sempurna, yang mematuhi setiap keinginan sang kekasih dan memilih pemisahan abadi  seperti yang diingini kekasih  daripada persatuan yang ia rindukan. (Schimmel, 1986: 199)

        Iblis atau Setan adalah mahkluk Tuhan, dan tidak pernah tampil sebagai musuh Tuhan atau kekuatan anti Ilahi. Dia adalah pengajar  dari para malaikat, diyakini telah beribu-ribu tahun patuh kepada  Tuhan, dan hanya sekali “melanggar” ketika disuruh sujud kepada Adam, yang menyebabkannya terlempar dari surga dan mendapat tugas baru dari Tuhan, yaitu menggoda  manusia menuju jalan kesesatan.

Menurut Muhammad Iqbal, keberadaan Iblis  sangat bermanfaat dan diperlukan di kehidupan dunia, sebab  hanya dengan memeranginya dalam “perang suci abadi”, maka orang dapat berkembang menjadi manusia sejati, yang lebih tinggi derajatnya daripada malaikat. Iblis  membuat kehidupan menjadi penuh warna dan romantika, karena jihad melawannya memberikan makna dan ujian bagi keimanan manusia. Dengan demikian, bukankah Iblis begitu bermanfaat bagi peningkatan derajat kemanusiaan di dunia.   

Iqbal melukiskan eksistensi Iblis  dan malaikat dalam syairnya:

 Iblis menusuk pinggang Tuhan bagaikan duri
 Sementara Jibril dan malaikat lainnya cuma berpuas diri dan patuh
 Sehingga tidak memberikan banyak sumbangan bagi kehidupan
 Untuk menjadi menarik dan berharga  untuk dijalani.
                                                                                  (Iqbal, 1936: 192).

        Iblis adalah mahluk Tuhan, oleh karenanya bukan anti Tuhan dan dia tetap merindukan Tuhan sebagai Sang Kekasih. Namun di dunia ini, karena “pelanggarannya” terhadap perintah sujud pada Adam, ia mendapatkan tugas sebagai  penggoda dan penipu manusia menuju jalan kesesatan. Iblis menjalankan tugas ini dengan sempurna, sehingga ribuan manusia telah menjadi anak buahnya,  namun  sebenarnya hatinya “menangis” mengapa banyak manusia yang begitu mudah terbujuk mengikuti rayuannya menuju jalan kesesatan, sementara dia (Iblis) sendiri ingin dirinya dikalahkan oleh manusia sejati, manusia yang dilimpahi kekuatan dan kesabaran menghadapi bujuk rayunya.

Muhammad Iqbal melukiskan keluhan Iblis ini dalam Javidnama.
        Nabi pernah ditanya bagaimana keadaan Iblis (Setan) yang menyertai Nabi, Beliau menjawab: “ Setanku telah tunduk dan patuh kepadaku atau Setanku telah menjadi muslim”  (aslama syaithani).

Setan yang bertugas menggoda Nabi telah takhluk oleh  kekuatan dan kesabaran jiwa Nabi, sehingga dia bisa dikendalikan dan menuruti  segala perintah Nabi. Iblis penggoda Nabi terselamatkan dari murka Allah karena telah menjadi muslim dan tunduk patuh pada ajaran Nabi. Sebenarnya Iblis-Iblis lain yang bertugas menggoda manusia merasakan “kecemburuan” mengapa tuan yang aku goda tidak mampu menundukanku, sehingga aku terselamatkan seperti nasib Iblis penggoda nabi.

Maka, sebenarnya Iblis mengharapkan  berhadapan dengan manusia sejati (al- insan al-kamil) yang dilimpahi  kekuatan jiwa dan kesabaran mengendalikan nafsu, karena dengan demikian, bujuk rayunya tidak berhasil bahkan ia berhasil ditundukan  dan diislamkan kembali (aslama) menuju jalan Tuhan Sang Kekasih yang sangat ia rindukan pertemuannya. Dengan demikian, ia (Iblis) menjadi terselamatkan dari laknat dan murka Tuhan dan bisa  berkumpul kembali dalam  singgasana kebenaran yang dilingkupi keagungan  Tuhan bersama jiwa-jiwa suci lainnya.
      
Berdasarkan pada pemahaman tersebut, berarti bahwa dengan mendidik indra-indra rendah  seseorang, dengan menghaluskan nafs, maka nafsu rendah yang merupakan  manifestasi  Setan  atau Iblis dalam diri manusia bisa  menjadi baik, bersahabat dan bersifat positif, sebagaimana seorang pencuri yang sudah bertaubat, maka  akan menjadi polisi  yang  paling baik, karena  mengenal tipuan-tipuan dalam bidangnya  dan bagaimana berurusan dengan orang-orang yang durhaka. 

Hal ini karena  dalam jiwa  manusia, seperti yang dikatakan Imam Gazali, terdiri dari empat unsur  sifat yaitu  sifat sabu’iyyah, sifat bahimiyyah, sifat syaithaniyah, dan sifat Ilahiyyah. (Gazali, 1982: 21).
      
Pertama, sifat sabu’iyyah, adalah sifat-sifat  yang dimiliki oleh binatang buas seperti serigala, babi, harimau dan anjing. Sifat-sifat ini mencerminkan sikap permusuhan, kebencian, amarah, saling serang dan kegarangan. Namun pada dasarnya sifat ini netral, artinya sikap permusuhan, kebencian dan kegarangan ini bisa  menjadi positif dan juga bisa menjadi negatif, tergantung dari unsur sifat  Ilahiyyah dan syaithaniyyah yang mempengaruhinya.

       Kedua, sifat bahimiyyah, yaitu sifat-sifat seperti yang dimiliki oleh hewan ternak semacam sapi, kerbau, kambing, kuda dan keledai. Sifat-sifat hewan ini mencerminkan  sikap rakus terhadap makanan, tamak terhadap harta, dan pengumbaran nafsu birahi. Sifat-sifat ini pun sebenarnya netral tergantung unsur Ilahiyyah dan syaithaniyyah yang dominan mempengaruhi.
       Ketiga, sifat syaithaniyyah, yaitu sifat-sifat yang mengajak  menuju  lembah dosa dan kehancuran. Ketika manusia  dilahirkan di dunia, maka  diberi dua pendamping hati, yang satu berpotensi untuk mengajak ke arah keburukan, yaitu setan atau Iblis dan yang satu berpotrensi untuk mengajak  ke arah kebaikan atau jalan Tuhan, yaitu malaikat sebagai wakil Tuhan.
       Keempat, sifat Ilahiyyah, yaitu sifat-sifat fitrah manusia yang mengajak berbuat  kebaikan menuju jalan Tuhan.  Unsur-unsur Ilahiyyah dalam diri  manusia itu ada, karena ruh manusia diciptakan dari hembusan nafas jiwa Tuhan yang dititipkan dalam jasad manusia.
Kesemua unsur ini ada dalam setiap jiwa manusia. Selanjutnya unsur  setan dan unsur Tuhan selalu tarik menarik berupaya mempengaruhi unsur sifat sabu’iyyah dan bahimiyah agar mengikutinya.

Bagi manusia yang oleh Ibnu Arabi digambarkan sebagai al-insan al-kamil, unsur Ilahiyyah telah berhasil memenangkan pertempuran abadi dalam jiwa manusia, sehingga  unsur bahimiyyah, sabu’iyyah, bahkan syaithaniyyah berarti telah tunduk dan patuh mengikuti  kehendak Ilahi.  Ketiga unsur ini, akhirnya mendorong untuk tegaknya singgasana Tuhan dalam kerajaan hati.

Keganasan sabu’iyah  menjadi keganasan untuk menjaga  hukum Tuhan, ketamakan bahimiyyah menjadi ketamakan untuk beribadah, dan tipu daya syaithaniyyah menjadi tipu daya mengajak menaiki tangga-tangga kema’rifatan.

       Dengan demikian, bukankah setan atau Iblis itu sebenarnya bisa dijadikan sahabat, kawan untuk menyangga tegaknya kerajaan Tuhan. Karena ketika al-Insan al-Kamil berhasil menundukan dan menyelamatkannya (aslama), maka manusia itu pun berarti telah menyelamatkan satu makhluk Tuhan dari murka-Nya di akherat kelak.

Maka dari itu, cara pandang manusia terhadap Iblis atau setan perlu diubah, dari paradigma konfrontatif menjadi paradigma kooperatif. Namun perlu dicatat bahwa  perubahan paradigma terhadap Iblis ini, harus disertai dengan kekokohan benteng jiwa yang benar-benar dibimbing oleh Tuhan.  Dengan demikian, setan atau Iblis dalam hati manusia yang pada awalnya distruktif, kemudian tunduk dan patuh sehingga berubah menjadi konstruktif terhadap nilai-nilai ketuhanan. Kalau ini mampu terwujud, maka alangkah benarnya syair yang dikumandangkan oleh Rumi;

Betapa banyaknya permusuhan yang sebetulnya persahabatan
Betapa banyaknya pembinasaan  yang sebetulnya pembaharuan.

No comments:

©