Thursday, 20 December 2012

2012 Kiamat: Nggak Penting Banget Sih!

Oleh: Felix Siauw Benar-benar susah berhadapan dengan bangsa ultra-latah dan super-klenik, semua yang berbau klenik laku bak kacang goreng di pasaran. Mulai dari setan yang paling banyak variannya (tante kunti, om pocong, suster ngesot, jenglot, gendruwo, buto ijo, wewe gombel, sampe hantu jeruk purut). sms-an reg_RAMAL, reg_MAMAH, reg_BODOH, reg_SORO dan lainnya bagaikan jamur di musim hujan. Bahkan pemahaman agama pun di-klenikisasi sehingga agama yang laku adalah agama yang berbau klenik, yang kyainya punya karomah bagi badan jadi dua satu di Makkah satu di desa katanya, yang ustadznya punya wiridan manjur mencari rizqi katanya, itulah yang akan laku di bangsa klenik. Termasuk tentang isu santer saat ini: 2012 kiamat! Sebenernya saya tidak mau khusus menjawab ini, tapi sepertinya lama-lama jadi perlu juga berhubung banyak yang tanya, jadi sekalian bikin note biar besok- besok ada yang tanya tinggal kopi-paste link. “Ustadz, ada yang bilang 2012 kiamat, bener gak ustadz di dalam Islam?” “Ustadz, itu kan sesuai dengan pendapat ilmuwan-ilmuwan yang ahli dibidangnya, bla, bla, bla, jadi bisa aja kan terjadi?” “Ustadz, menurut skenario global warming, 2012 kiamat karena es kutub mencair, bla, bla, bla, dan alien akan datang, bla, bla, bla” Dalam Islam jelas sekali, Islam menjadikan yaumil qiyamah (hari kiamat) sebagai salah satu rukun iman, dimana kita hanya diwajibkan yakin dan beriman pada-Nya, bukan memikirkannya. Kenapa? karena Allah telah membagi-bagi yang mana yang harus diyakini dan yang mana yang boleh dipikirkan. Dalam perkara-perkara yang faktanya terindera oleh manusia, maka Allah pasti menyuruh kita memikirkannya Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS ali Imraan [3]: 190) tapi dalam perkara-perkara yang faktanya tidak bisa terindera manusia maka Allah pasti meminta kita untuk meyakininya dan mengimaninya saja (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib (QS al-Baqarah [2]: 3) Hari kiamat sendiri adalah termasuk hal yang ghaib yang tidak dapat diindera faktanya oleh manusia,oleh karena itu Allah hanya memerintahkan kita untuk mengimaninya dan mengambil pelajaran dengan hari kiamat itu. Dan sekalipun Allah tidak pernah meminta kita untuk memikirkan tentang waktunya. Oleh karena itu, memikirkan kapan terjadinya kiamat, bersibuk diri dengan menghitung kapan hari kiamat adalah perkara yang sia-sia bagi kaum mukmin, karena hal itu tidak diperintahkan oleh Allah untuk dipikirkan tetapi untuk diyakini. Apalagi mempercayai kabar-kabar tentang datangnya hari kiamat dan ramalan-ramalannya, maka hal ini malah termasuk musyrik karena Allah sendiri telah berpuluh-puluh kali di dalam al-Qur’an menyampaikan kepada kita bahwa kiamat adalah hak-Nya, pengetahuan-Nya dan rahasia-Nya. Artinya meyakini hal yang bukan datang dari Allah sama saja kita mencari sekutu selain Allah, naudzubillahi min dzalik.Diantara banyak ayat-ayat al-Qur’an tentang kiamat, ada satu ayat yang sangat mewakili pembahasan kita: Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS al-A’raaf [7]: 187) Sama ketika rasulullah pernah ditanya tentang kiamat: Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah saw.: Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah saw. bersabda: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Lelaki itu menjawab: “Cinta Allah dan Rasul-Nya”. Rasulullah saw. bersabda: “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai”. (HR Muslim #4775) Kedua dalil tersebut menunjukkan kepada kita bahwa pengetahuan tentang kiamat menjadi tidak penting karena itu pasti terjadi. Sesungguhnya yang harus dikhawatirkan manusia tentang hari kiamat bukanlah pada waktunya tetapi pada apa yang telah disiapkannya. Allah mengisyaratkan bahwa kiamat akan terjadi secara tiba-tiba (mendadak), yang berarti manusia tidak akan menyangka-nyangkanya. Hal ini agar manusia selalu menjadikan setiap aktivitasnya adalah untuk kebaikan di jalan Allah dan menyegerakan amal baiknya sebelum datang hari kiamat yang rasul isyaratkan sangat dekat sekali. Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat bagaikan dua jari ini.” [Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuk] (HR. Muslim no. 7597) Maka kiamat sama saja dengan kematian, selalu datang dalam saat-saat yang tidak terduga. Maka Allah sengaja menjaga waktunya tetap dalam kerahasiaan agar manusia senantiasa berbuat sesuai dengan syariat Islam dan menghindari maksiat dan larangan Allah karena mereka sadar bahwa kiamat bisa terjadi kapan saja, tidak dipatok pada waktu tertentu. Seandainya kiamat bisa diprediksi, maka manusia tidak akan memiliki niat menyegerakan dan kebaikan dan berlomba di dalamnya. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan (QS Thahaa [20]: 15) Biarlah manusia berkata semaunya, toh telah terbukti manusia banyak bo’ongnya, apalagi berita datang dari orang fasik. virus Y2K tahun 2000 nggak terbukti, bencana Global Warming juga cuma isapan jempol, ramalan Nostradamus cuma jadi cerita dongeng. Semuanya tidak pantas diyakini. Pertanyaannya sekarang, apa yang sudah kita persiapkan dalam keyakinan kita tentang hari kiamat yang pasti terjadi? Jika Arab badui tadi menjawab dengan mencintai Allah dan Rasul, dan dia masuk surga karena itu, maka harusnya kita juga sama. Bagaimana maksudnya mencintai Allah dan Rasul: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (rasul Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS ali-Imraan [3]: 31) Saksikanlah ya Allah, aku mencintai-Mu dan rasul-Mu dan aku mengumumkan permusuhan bagi apapun yang Engkau dan Rasul-Mu memusuhinya. aku merindukan hidup dalam totalitas syari’at-Mu dan aku mengumandangkan peperangan bagi aturan thaghut selain aturan-Mu. aku membela bendera-Mu dan rasul-Mu dan aku akan menaruh selainnya dibawah kakiku. aku mengasihi ummat-Mu dan rasul-Mu dan shahabatnya serta pejuangnya dan setiap pengemban dakwahnya, dan aku berharap bersama mereka kelak di surga-Mu aku memohon surga-Mu dan bertemu rasul-Mu dan aku benci masuk kedalam neraka-Mu sebagaimana aku benci kembali pada kekafiran.

No comments:

©