Friday, 16 November 2012

Karena Palestina Hanya Bebas dengan Perlawanan!


PERANGILAH mereka (orang-orang kafir), niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, Allah akan menghinakan mereka dan menolong kalian terhadap mereka serta melegakan hati orang-orang Mukmin (QS at-Taubah: 14).
Mari kita semua bertanya kepada diri kita sendiri; siapakah yang mengambil alih tanah Palestina dan kemudian membaginya menjadi dua bagian dan ikut melegitimasi kedatangan Israel ke bumi Palestina? Siapakah yang diam ketika Amerika mendukung Ben Gurion untuk menjadikan Jerusalem sebagai ibukota Palestina pada pidatonya tanggal 5 Desember 1949? Lalu sekarang kita ramai-ramai meminta “patung mati” itu untuk menghentikan agresi Israel ke Palestina? Dan menyudahi kezhaliman mereka selama satu pekan ini yang telah menewaskan Syekh Ahmed Al-Jaabari dan para syuhada lainnya? Berhentilah mengemis kepada PBB! Karena hanya ada satu kata untuk membebaskan tanah Palestina: Lawan!
Apa yang Bisa Diharapkan dari PBB?
Tentu bangsa Palestina tidak akan pernah lupa, bahwa pada 29 September 1947, PBB mengeluarkan resolusi nomor 181 yang kemudian menjadi titik awal legitimasi bersih Israel atas hak tanah Palestina. PBB membagi Palestina menjadi dua wilayah; antara Yahudi dan Arab. Resolusi yang sangat tidak adil karena mempersilahkan maling mencaplok kue pemiliknya dengan membagi dataran suci itu antara 43% bagi muslim Palestina dan 53% untuk bangsa bengis Yahudi.
Dan dari Resolusi PBB No. 181 itulah mereka mengantarkan David Ben Gurion untuk memproklamirkan negara Yahudi dengan Ideologi zionisme sebagai asasnya pada 14 Mei tahun 1948. Ideologi yang dapat didefinisikan sebagai kepercayaan tentang kembalinya orang-orang dan bangsa Yahudi selama berabad-abad, sehingga dapat menyelamatkan mereka dari kekuasaan orang-orang non-Yahudi. Ideologi yang kelak menjadi cikal bakal akan sebuah fakta bahwa gadis-gadis kecil Palestina sudah menjadi yatim-piatu di umur lima tahun, yang menjadi fakta syahidnya Syekh Ahmad Yassin dan Abdul Aziz Rantisi, yang menjadi fakta menghitamnya bangkai tubuh saudara-saudara kita akibat bom rezim Yahudi dengan white phosphorus-nya. Padahal semua orang tahu bom keji itu dilarang untuk diledakkan dalam sebuah perang oleh PBB. Lalu apakah lembaga tinggi dunia itu bertindak? Tidak sama sekali.
Masih ingat dalam benak kita pada Sidang Khusus Darurat Majelis Umum PBB untuk menindaklanjuti Gaza Berdarah pada peralihan tahun 2008-2009. PBB hanya mengeluarkan resolusi yang dinilai terlalu lunak dan gagal mengidentifikasi Israel sebagai keladi bagi krisis Gaza. Meski sebelumnya ada dua resolusi yang ditawarkan PBB.
Pertama, rancangan resolusi yang menginginkan pasukan Israel ditarik tanpa syarat dari Jalur Gaza. Sebuah resolusi yang disponsori beberapa Negara seperti Venezuela, Malaysia, Suriah, Nikaragua dan Senegal, plus Presiden Majelis Umum (MU) sendiri.
Kedua adalah rancangan yang lebih lunak dan kompromis terhadap gencatan senjata di Jalur Gaza. Rancangan ini disponsori Mesir, atas persetujuan Uni Eropa dan Palestina. Dan sapa nyana, kebrutalan Israel yang membunuh 1300 muslim Palestina tidak berdosa itu, hanya diganjar resolusi rancangan Mesir yang akhirnya didukung 112 negara dan ditentang 10 negara, dan 20 negara sisanya memilih abstain.
Ingatlah, zionisme tidak akan pernah mengenal bahasa “keanggotaan”, apalagi keanggotaan PBB. Rapat Dewan Umum PBB sendiri yang pernah mengeluarkan Resolusi 3379 tanggal 10 Desember 1975 dengan menyamakan Zionisme dengan diskriminasi rasial. Akan tetapi, pada 16 Desember 1991, apa daya atas tekanan Israel dan sekutunya AS pasca mengalahkan Irak, resolusi tersebut dicabut kembali. Lalu pernahkah PBB mencabut resolusi 181 yang menekan Palestina dan mentitahkan agar Israel angkat kaki dari Al Quds? Tidak pernah. Dan sekarang kita semua berharap PBB menjadi “pengadil” yang sungguh adil atas nasib bangsa Palestina? Lupakanlah.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS An Nisaa’:144)
Yang terjadi PBB adalah satu-satunya lembaga yang gemar mengoleksi resolusi. Ya sekali lagi, resolusi! Resolusi yang hanya bisa mengecam, mengkritik, mengutimatum Zionis Laknatullah tanpa ada realisasi berarti. Seperti Resolusi 106: The Palestine Question (29 Maret 1955) yang ‘mengutuk’ serangan israel untuk Gaza. Resolusi 111 yang ‘mengutuk’ Israel karena serangan di Suriah yang menewaskan lima puluh enam orang”. Resolusi 162yang ‘mendesak’ Israel untuk mematuhi keputusan PBB”. Atau Resolusi 237yang lagi-lagi hanya meminta Israel untuk mengizinkan kembalinya pengungsi Palestina tahun 1967 dan masih banyak lagi. Maka melihat resolusi-resolusi itu Israel tetap bergeming.
Karena bayangkan, hukum Allah saja yang jelas-jelas hukum tertinggi di muka bumi mereka langgar, apalagi hukum buatan manusia. Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka dengan siksa yang pedih”. (QS. Ali Imran: 21)
Hanya Satu Kata: Lawan!
Maka itu solusi untuk membebaskan Palestina tidak akan bisa ditembus melalui jalur dialog. PBB pun tidak akan pernah bisa berbuat banyak sekalipun Palestina sudah diakuinya. Lihat saja Irak dan Afghanistan. Sekalipun kedua Negara adalah negara merdeka, tetap menjadi basis kekuatan Amerika yang juga dibiarkan PBB.
Umat muslim Irak hidup dalam nestapa. Hak hidup nyaman mereka direnggut oleh Amerika dan Israel. Dimana AS dan Israel melakukan pembagian wilayah: daerah kaya minyak menjadi basis teritori Amerika, sedangkan situs Nebukadnezar menjadi milik Yahudi. Disanalah mereka melakukan nostalgia atas kejayaan Mesopotamia (baca: Kabbalah) yang pernah mereka toreh sekaligus menancapkan batu untuk mendirikan Negara Israel Raya.
“Tanah yang Dijanjikan memanjang dari Sungai Nil ke Eufrat. Itu termasuk bagian Suriah dan Lebanon”(Testimoni Rabi Fischmann, anggota Jewish Agency for Palestine, di depan UN Special Committee of Enquirypada 9 Juli 1947).
Maka itu, sekali lagi, jalan yang bisa ditempuh hanyalah jalan jihad. Terlebih Israel sedang memasuki masa krisis menyusul aksi terbesar dalam sejarah negaranya dimana mereka didemo warganya sendiri. Inilah yang harus menjadi momentum bagi umat muslim berintropeksi bahwa jalan ‘lisan’, tidak akan pernah menggetarkan Israel untuk menghancurkan Palestina. Dan Allah sudah memberi tahu kita bagaimana cara melumpuhkan mereka,
“Dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan Israel) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang Islam di bawah pimpinan Imam Mahdi) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam Masjid (Al-Aqsha), sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa yang mereka kuasai”. (QS. Al-Isra’: 7)
”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al-Maidah ayat 82)
Bayangkan betapa takutnya Israel jika satu saja muslim di dunia mengobarkan jihad dan itu serempak dilakukan di seluruh dunia, mulai dari Sudan, Mesir, Somalia, Afghanistan, Irak, Bosnia, Albania, Indonesia, Pakistan, Malaysia, Kuwait, Jordania. Dan faksi jihad Islami di Palestina sudah mengobarkannya. Apakah kita akan menyambutnya? Inilah yang pernah dikatakan Asy Syahid Abdul Aziz Rantisi pasca gugurnya Syekh Ahmad Yasin, “Kami tak takut mati, namun yang takut akan kematian adalah mereka kaum Zionis Yahudi. Kami tentu saja akan membalas kepada Sharon dengan bahasa yang dia pahami, yaitu bahasa darah”.
Syekh Usamah Bin Laden sebelum wafat juga sudah mewanti-wanti perkara ini.“Di antara kekurangan kita di zaman sekarang, kita dihadapkan kepada banyak jalan yang mengusung slogan-slogan pembebasan Palestina, padahal sebagian besar jalan ini justeru menelantarkannya. Jalan yang paling besar adalah tindakan penguasa-penguasa hari ini yang mengadakan pertemuan-pertemuan para menteri dan melimpahkan masalah kepada Dewan Keamanan PBB. Ini adalah sebuah cara untuk lari dari tanggung jawab dan mentelantarkan masalah Palestina.”
Maka itu bola ada di tangan umat muslim, bukan PBB. Di tangan para generasi muslim yang akan turun bahu membahu membebaskan Palestina dengan “bahasa darah” bukan linguistik diplomasi. Inilah sebuah perkara yang pernah dilontarkan Abdul Aziz Rantisi, “Kami siap melakukan perang terbuka dengan Israel.
Oleh karena itu, di penghujung zaman seperti ini, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah mempersiapkan umat Islam untuk bersiap-siaga memerangi bangsa Yahudi. Dengan tanpa keraguan sedikitpun, Rasulullah SAW telah memprediksi bahwa umat Islam dan orang-orang beriman semuanya bakal terlibat dalam perang semesta menghadapi kaum Yahudi di akhir zaman.
Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Kamu semua akan membunuh orang-orang Yahudi. Maka kamu semua akan membunuh mereka sehingga batu akan berkata: Wahai para muslimin! Di sini ada orang Yahudi, datanglah kemari dan bunuhlah dia.” (HR Muslim)
Dan apakah kita ingin menundanya? “Salah satu alasan mengapa musuh-musuh Allah sukses mengalahkan umat Islam dan mengambil alih tanah mereka, karena umat Islam kehilangan cintanya untuk menjadi seorang syuhada,” tandas Anwar Al Awlaki. Allahua’lam.. (Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi/Islampos)

No comments:

©