Tuesday, 13 November 2012

Di Australia, Diskriminasi Muslim Sampai Pada Urusan Cari Kerja

KAUM Muslim Australia rupanya lebih sulit mencari pekerjaan dibandingkan mayoritas orang Kristen di sana, banyak pengusaha Australia merasa ragu mempekerjakan laki-laki Muslim, apalagi dengan kalangan Muslimah berjilbab.
Menurut laporan Newcastle University, penggambaran negatif tentang Muslim di media memiliki efek yang sangat merugikan pada harga diri pemuda Muslim, dan juga mengakibatkan anak-anak yang ditindas serta mendapat perlakuan buruk di sekolah.
Sementara berdasarkan laporan data Sensus yang dipimpin oleh Prof Terry Lovat, menemukan bahwa tingkat pengangguran di kalangan laki-laki Muslim lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata nasional.
Hal ini juga mengungkapkan bahwa umat Islam adalah yang paling diskriminasi terhadap minoritas agama di Australia dengan 13,4 persen dibandingkan pengangguran orang-orang Buddha yang hanya mencapai 9,6 persen.
Diskriminasi Muslim juga tiga kali lipat dari Lutheran 4 persen, Baptis 4,8 persen, dan 4,9 persen Ortodoks.
Laporan itu mengatakan bahwa umat Islam menghadapi hambatan tempat kerja, termasuk kemampuan berbahasa Inggris yang miskin, dengan alasan karena tidak memenuhi kualifikasi, perbedaan budaya dan isu-isu agama.
Namun, hambatan terbesar yang dihadapi umat Islam tercermin dari meningkatnya diskriminasi di bangun dari serangan 9/11 di Amerika Serikat dan Bali tahun 2002 pemboman.
Hambatan Besar
Dari temuan Laporan tersebut, Muslim Australia jelas kecewa karena merasa didiskriminasi di negeri sendiri.
“Ada banyak diskriminasi terhadap Muslim, dan bukan hanya dalam pekerjaan,” kata Dewan Islam Victoria, Mohahmmad Tabaa, Selasa (13/11).
Ia mengatakan bahwa terkait serangan teroris, meskipun banyak ditentang oleh mayoritas Muslim di Australia dan di seluruh dunia, namun hal tersebut justru terus meningkatkan diskriminasi anti-Muslim.
“Sejak serangan teroris, Islamofobia terus meningkat di negara-negara Barat, termasuk Australia,” katanya.
Sehingga menghadapi diskriminasi terang-terangan di bidang pekerjaan, banyak Muslim Australia mengkristenkan nama mereka demi mencari pekerjaan. Dan hal serupa juga dialami Muslim di Jerman, Perancis dan bahkan Amerika Serikat. [rt/islampos/oi]

No comments:

©