Tuesday, 20 November 2012

Ayah, Ternyata Engkaulah Penyebab Utamanya

AYAH, apakah ayah termasuk orang yang berkeyakinan seperti ini : “Ayah kan sudah keluar seharian sampai kadang pulang malam mencari uang demi anak. Supaya bisa memberikan gizi yang lebih baik, menyekolahkan di tempat yang berkualitas yang biasanya mahal, memenuhi fasilitas belajar dan kehidupan anak-anak. Jadi pendidikan, diserahkan ke ibunya saja” Jika ayah tipe orang yang seperti ini, terjemahan dalam rumahnya menjadi begini : “Ibu yang mengurusi semua semua hal tentang pendidikan baik ilmu ataupun keteladanan, kemudian pertemuan dengan ibu dianggap sudah cukup mewakili, efeknya merasa tidak terlalu penting pertemuan fisik ayah dengan anaknya, dan akhirnya ayah menumpahkan kesalahan yang dilakukan anak kepada ibu yang tidak becus mendidik, tanpa merasa ada andil kesalahan ayah di sana” Ayah adalah orang yang seperti ini? Jika ‘iya’ jawaban ayah, atau ‘mungkin’, atau kayaknya ‘sebagian benar’, maka sungguh ayah akan kehilangan anak-anak ayah di kemudian hari. Saat anak ayah memasuki pelataran masa depannya dan ayah telah memasuki kamar usia senja, atau bahkan lebih cepat dari itu, berbagai ‘tsunami’ masalah menghantam kenyamanan rumah ayah karena ulah anak ayah yang baru gede. Para ayah yang dirahmati Allah, yuk kita baca nasehat ini. Nasehat yang datang dari seorang ulama ternama abad 8 H. Ibnu Qoyyim r.a dalam kitab Tuhfatul maudud 1/242, MS, secara tegas mengatakan bahwa penyebab utama rusaknya generasi hari ini adalah karena ayah. Beliau mengatakan, “Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya. Dia juga mengira telah menyayanginya padahal dia telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, penyebab utamanya adalah ayah”. Bacalah kalimat yang paling bawah : Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, penyebab utamanya adalah ayah. Imam Ibnu Qoyyim ‘menuduh’ Anda semua, para ayah. Di mana yang menjadi penyebab utama kesengsaraan anak, buah hati ayah di dunia dan akhirat adalah ayah. Hal ini disebabkan oleh 3 hal: tidak memperhatikan, tidak mendidik dan memfasilitasi syahwat. Astaghfirullah. Untuk menguatkan kalimat di atas, mari kita simak pemaparan hasil penelitian ilmuwan. Dr. Tony Ward dari University of Melbourne, Australia, dalam penenelitiannya, para periset mewawancarai 55 laki-laki yang dipenjara karena penganiayaan terhadap anak-anak dan 30 laki-laki yang dipenjara karena terlibat kasus pemerkosaan. Mereka diminta memberikan persepsinya terhadap hubungan mereka di masa kanak-kanak dengan ayah dan ibunya. Sebagai perbandingan, para peneliti juga mewawancarai 32 laki-laki yang dipenjara karena kejahatan kriminal dan 30 laki-laki yang dipenjara bukan karena kekerasan atau kejahatan seksual. Lebih lanjut, para pemerkosa dan pelaku penganiayaan anak-anak ini, rata-rata menggambarkan ayahnya bersikap “menolak” dan “kurang konsisten” ketimbang ibu mereka. Dari sini Ward mengatakan jelas sekali bahwa sikap dan kebiasaan yang dimiliki para ayah memiliki pengaruh kuat terhadap pertumbuhan anak-anaknya, terutama terhadap para pelaku kejahatan seksual dan penganiayaan anak-anak. Penelitian tentang ‘keayahan’ juga dilakukan oleh Melanie Mallers, asisten profesor di California State University di Fullerton. Dalam studi tersebut, Mallers dan rekannya meneliti 912 pria dewasa dan wanita – usia 25-74 tahun – melalui telepon tentang tingkat stres mereka selama delapan hari Temuan penelitian disajikan hari Kamis pada konvensi tahunan American Psychological Association di San Diego. Pria yang cenderung bereaksi negatif terhadap stres setiap hari melaporkan bahwa sebagai anak-anak mereka sangat sedikit kehangatan dari ayahnya, sedikit dukungan dan kasih sayang. Mereka tidak hadir secara fisik bagi anak-anaknya dan tidak membuat anak-anak merasa percaya diri, mereka juga tidak terlibat dalam kehidupan anak-anaknya secara keseluruhan. Astaghfirullahal ‘adzim Mari istighfar yang banyak, para ayah. Dua penelitian tersebut, menguatkan kalimat Ibnu Qoyyim yang sudah dituliskan sejak 7 abad sebelum penelitian ini dilakukan. Dari pembahasan ini, terdapat dua pelajaran penting untuk para ayah semua: Pertama, petunjuk para ulama tentang konsep parenting sungguh luar biasa. Walaupun kalimat tersebut bukan wahyu, tetapi hal tersebut bersumber dari wahyu dan pengalaman mahal orang besar. Kedua, seriuslah menjadi ayah. Mari kita belajar bersama untuk menjadi seorang ayah. Karena coretan kegagalan dan kumuhnya akhlak anak, ternyata ukiran tangan kita semua, para ayah. Astaghfirullahal ‘adzim, wa atubu ilaih. Wallahu ‘Alam [Budiashari/parentingnabawiyah]

No comments:

©