Sunday, 21 October 2012

Ustadz Gagal


PERTAMA  kali ngaji sekitar 20 tahun yang lalu saya berkenalan dengan dia. Awalnya ikut pengajian karena tertarik pada sebuah acara bakti sosial yang digelar di depan rumah. Panitianya saya lihat agak lain dari yang lain, karena yang perempuannya memakai jilbab, dan laki-lakinya—walaupun saya yakin bukan dokter ataupun praktisi kesehatan—tetapi sangat bersahaja dan terampil dalam melayani masyarakat.
Ketika itu juga saya akhirnya ikut sebuah kelompok pengajian. Dengan beberapa orang lainnya yang juga masih baru dalam satu kelompok, saya dibina. Yang jadi ustadznya adalah seorang alumni, yang belum terlalu jauh usianya dengan kami. Melihat dari segi keilmuannya, ia sangat hebat. Saya sendiri selalu terkaget-kaget jika mendengarkan penuturannya tentang segala hal hangat yang sedang terjadi. Mulai dari soal musik, sampai soal sinetron televisi, dan terutama tentu, soal politik terkini.
Tapi, di sisi lain, saya juga harus mengakui bahwa setiap kali datang ke pengajian, saya kok tiba-tiba saja tidak menemukan perasaan aman. Saya selalu merasa insecure dan terancam. Pasalnya—mungkin—karena ustadz saya itu ampir tidak pernah tidak menyindir kami, para binaannya ini. Namanya juga nyindir, ya tidak pernah ditujukan langsung. Tapi biasanya semua orang juga tahu siapa yang lagi disindir ketika itu.
Karena kebiasaan nyindirnya itu, satu per satu, teman-teman saya mulai mundur teratur dari pengajian. Ada saja alasan hingga tidak bisa dateng. Sampai akhirnya pada giliran saya. Lama-lama, ternyata saya juga tidak bisa bertahan. Pasalnya, hampir sepanjang pengajian, kuping dan wajah selalu saja terasa panas karena sindiran-sindirannya. Keliatannya biasa dan sepele, tapi kalau terus-terusan disindir seperti itu, jadi jengah juga. Ya mengapa juga berada di suatu tempat kalau kitanya merasa tidak nyaman? Saya akhirnya musti berani memilih: pergi dari pengajian itu.
NYINDIR bukannya tidak boleh. Bahkan sepertinya jika kondisinya sudah memungkinkan, ya sindirian bisa dijadikan suatu sarana dalam salih memberi nasihat. Tapi jika sindiran yang selalu dilakukan terus-menerus, bisa jadi bumerang juga. Siapapun akan merasa jengah. Itu saya rasakan sendiri.
Kalau menurut hemat saya, nyindir sekali-sekali boleh-boleh saja. Tapi alangkah lebih baiknya kalau yang lebih sering diberikan pada para binaan semacam motivasi. Motivasi untuk melakukan sesuatu. Dan ini yang jarang sekali dilakuin oleh ustadz saya itu. Bawaannya selalu nanya, “apa yang sudah bisa kalian berikan untuk dakwah ini?”, “kemana saja selama ini kok tidak pernah keliatan sementara teman-teman Ikhwan yang lain capek-capek ngurusin kegiatan…?” dan sebagainya. Sekarang saya tidak lagi ikut pengajian.
Sekarang, kadang-kadang saya suka bertemu dia juga. Mungkin di mall, mungkin di taman kota, atau dimana saja. Kalau pas kebetulan bertemu, saya selalu mengucapkan rasa syukur dan terima kasih karena berkat ia salah satunya saya kenal Islam. Tapi jauh dalam hati saya, saya juga tidak bisa menipu, seperti ia yang mungkin juga mengklaim saya sebagai kopral macet, saya pun sering menamai dia jadi “ustadz gagal”! Afwan!
Oleh : Ibnu Dzar, samenibndzar@gmail.com

No comments:

©