Monday, 22 October 2012

Ulama-Ulama Muqolidun dalam Sejarah Bagaimana Hukum Islam Ditetapkan


DALAM konteks sejarah penetapan hukum Islam, hampir semua pakar Hukum Islam mengakui bahwa ada tiga fase potret dinamikan tasyri’ yang dininilai memberikan inspirasi dinamis bagi para fuqaha kontemporer. 1). Fase kejayaan tasyri’ Islam, yaitu era klasik terutama pada era ulama madzhab, 2) fase kemunduran tasyri’ Islam, yaitu era pertengahan terutama pada era murajjihun dan ulama Muqallidun, dan 3) fase kebangkitan kembali fiqih Islam, yaitu era ulama modernis.
Kemajuan maupun kemunduran potret peradaban manusia, utama dalam bidang fiqih di atas, tentu tidak terlepas dari kualitas keilmuan dan kesungguhan masing-masing pelaku dan penyangga sejarah. Derajat dan otoritas keilmuan para ulama madzhab yang telah menelurkan berbagai produk fiqih monumental ketika itu, tidak sedikit melahirkan berbagai pengaruh signifikan bagi generasi setelahny.  Baik pengaruh dinamis berupa gerakan berijtihad pada satu sisi, maupun berupa pengaruh sikap puas dan merasa final dalam berijtihad pada sisi lain.
Dengan kata lain, kerja keras dan keteladanan para ulama madzhab dalam berijtihad pada masanya disenyalir telah memberikan inspirasi tersendiri bagi sebagian para fuqaha pasca ulama madzhab untuk melakukan kegiatan yang sama.
Namun di sisi lain gerakan dinamis yang sarat dengan kerangka metodologis yang komperehensif dan holistik itu, tanpa terasa telah menaklukkan, melumpuhkan, dan menenggelamkan sederet kemauan dan kemampuan nalar kritis tradisi berijtihad para fuqaha pasca ulama madzhab.
Lebih dari itu, kemudian mereka mengkultuskan dan mensakralkan produk-produk fiqih ulama madzhab yang mereka nilai sangat monumental itu. Sejak itulah, kerja keras sebagian para ulama muqallidun ini terbatas pada perilaku memuja-muja karya ulama madzhab, mengkultuskannya.  Dan bahkan berusaha menciptakan suasana yang membawa umatnya memiliki sikap panatisme madzhab yang berlebihan.
Energi keilmuan mereka lebih difokuskan pada persiapan-persiapan membangun dan mengokohkan argumentasi-argumentasi logis yang dapat menjaga dan melindungi kebenaran hasil produk ijtihad para ulama madzhab tersebut.
Sayangnya para ulama muqallidun ini yang berhasil mewarisi model dan karakteristik para ulama madzhab tidak banyak. Mayoritas di antara mereka justru berada pada komunitas yang bertekad mengadakan pembelaan-pembelaan dan justifikasi-justifikasi atas gagasan para ulama madzhab yang telah muncul sebelumnya.
Dengan demikian, dalam perspektif historis ada benarnya jika para ulama muqallidun pada umumnya berada pada posisi pembelaan karya ulama madzhab ini. Inilah yang menyebabkan produktifitas karya-karya fiqih mereka stagnan. Jika toh ada, karya fiqih itu hanya sebatas pada syarah, tahqiq, dan hasyiyah, yang berisi penjelasan-penjelasan lebih jauh tentang produk para ulama madzhab. [syariah]

No comments:

©