Friday, 26 October 2012

Tentang Kasih Sayang


kasih-sayangOleh: Fatih Zam
HANYA tiga hari saya berada di rumah. Karena memang, pekan ujian semester sudah tiba. Namun, meski hanya tiga hari saya berada di rumah orang tua, saya mendapat banyak energi dan inspirasi. Ibu dan abah saya memang obat, yang bukan hanya mengobati kerinduan saya. Melainkan mampu mengisi tangki energi dan inspirasi saya yang entah kenapa mengalami kebocoran.
Di antara banyak inspirasi yang saya dapat di rumah, salah satunya ingin saya bagi dengan Anda. Ini saya dapatkan di malam hari, ketika saya sedang menyimak berita di televisi. Kalau tidak khilaf, saat itu sedang ada acara perkumpulan para pengacara dan ahli hukum se-Jakarta.
Saat itu, dibahas tentang ‘Hukum untuk Kalangan Papa’. Ah, saya hampir mau memencet stasiun lain, karena bosan dengan wacana demi wacana, tanpa aksi nyata. Sebelum saya memilih saluran lain, jempol saya berhenti karena televisi itu menayangkan sesuatu yang sangat miris. Dua orang—suami-istri—dipenjara karena dituduh menyimpan sepuluh bungkus ganja. Pengakuan dua orang buta ini mengundang iba mereka, para lawyer. Termasuk di sana ada Bapak Menteri.
Akan tetapi, yang membuat saya terharu bukan karena mereka saking tidak mengetahui apa-apanya, sampai harus mengakui saja apa-apa yang disangkakan. Atau karena Pak Mentri menyampaikan bahwa presiden terketuk hatinya kemudian memberikan grasi. Bukan itu, sama sekali bukan! Karena kalau itu, adalah kewajiban mereka sebagai yang di atas.
Yang lebih membuat saya terharu adalah ketika dua orang buta sepasang suami istri ini menyampaikan beberapa kalimat. Salah satu kalimatnya,
“Siapa yang menjaga anak-anak kami kalau kami tetap di sini, Pak?”
Saya tidak sanggup lagi melanjutkan menonton berita tersebut. Saya langsung memencet tombol lain. Mencari acara-acara yang sekiranya ‘lebih menarik’. Namun, kalimat terakhir dari dua pasangan buta itu seolah memeluk saya erat sekali. Kalimat itu seperti menggerayangi saya, agar saya gegas memikirkan dan mengambil inspirasi dari sana.
Televisi pun saya matikan. Saya tahu, kalimat yang meluncur dari pasangan buta itu bukan kalimat biasa. Itu kalimat sakti. Itu adalah kalimat yang dimiliki oleh manusia yang masih memiliki hati. Itu adalah kalimat yang dimiliki oleh manusia suci.
“Siapa yang menjaga anak-anak kami kalau kami tetap di sini?”
Saya kembali menguliti kalimat itu. sampai kemudian, saya menyadari bahwa dua orang yang mengatakan paling berhak menjaga anak-anak mereka adalah dua orang buta. Apa yang bisa dilakukan oleh orang buta? Bisakah mereka menjaga dengan optimal?
Melihat kenyataan seperti itu, barangkali semua orang akan berpendapat sama dengan saya. Namun, setelah saya memperhatikan dan menghayati artikulasi,intonasi, dan nada bicara dua orang buta itu, saya mendapati bahwa sesungguhnya dua orang buta itu tidaklah buta.
Dari kedua ceruk mata mereka mengalir air mata. Sungguh, itu bukan air mata ketakutan akan jeruji atau hukuman mati. Tetapi itu adalah air mata ketakutan akan nasib anak-anak mereka. Itu adalah air mata kasih sayang yang dititipkan Allah kepada mereka. Kasih sayang yang dititip semenjak mereka mengenal dunia, dan tidak lekang hingga kapan pun jua.

Fatih Zam, CEO and Founder Taraje Foundation www.ranting-basah.blogspot.com

No comments:

©