Friday, 19 October 2012

Rizal Ramli : Partai Politik Seperti Kendaraan Sewaan, Wani Piro?


Jakarta (voa-islam.com) Namanya partai politik, sekarang semakin tak lagi menarik. Nama partai politik sudah semakin buruk, dan tak sedap.
Bukan saja pemimpin yang banyak terlibat korupsi dan cenderung memperkaya diri, tetapi partai politik, sekarang seperti mobil rental. Bisa siapa saja yang menggunakan dan menyewa, sesuai dengan kesepakatan tarif yang disepakati antara kedua belah pihak. Kaidah yang digunakan oleh para pemimpin partai itu, hanya dengan kata, "wani piro?", dan sudah menjadi kaidah umum.
Di musim pemilihan, mulai dari pemilihan presiden, gubernur, bupati, walikota, sampai pemilihan direktur BUMN, tak terlepas dari kaidah "duit", alias "wani piro" jadi partai politik itu seperti tempat rental. Siapa saja bisa menggunakan, hanya dengan dasar "uang" sewa.
Dulu, peran Ketua Umum PKB, Matori Abdul Djalil, pernyataan sangat terkenal, yaitu "Maju tak gentar membela yang benar". Tetapi, sekarang ini, sudah dibalik 180 derajat, dan pernyatan Matori itu, diubah menjadi "Maju tak gentar membela yang bayar".
Jadi, yang penting deal antara pengurus partai dengan calon pejabat itu, yang penting dikedepankan, "wani piro". Ini yang pokok, bukan lagi kesamaan ideologi, atau perjuangan yang menjadi landasan dukungan kepada seorang calon.
Maka, tokoh yang pernah menjadi Menteri Koordinator Ekonomi dan Keungan  di zamannya Presdien Abdurrahman Wahid, dan ketua ECONIT, itu menyatakan, bahwa parta politik itu,  "Bagaikan taksi sewaan. Tarifnya tarif atas," tutur Rizal dalam diskusi perspektif Indonesia 'Adu Figur atau Adu Partai' di DPD RI kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (19/10/2012).

Menurut Rizal, parpol tidak ubahnya sebagai kendaraan sewaan. Tidak punya peran apa-apa, tapi justru transaksi capital dan uang yang berkembang. "Tokoh-tokoh yang dipilih tidak mencerminkan aspirasi. Kecuali sifatnya transaksi saja. Saudara punya uang Rp500 miliar saja, pasti ada partai yang mau mencalonkan," tutur Rizal.

Hal ini juga diamini peneliti politik LIPI Firman Noor. Baginya cara pandang politik sekarang adalah kekuasaan yang berujung pada uang. "Persepsi dipolitik ini adalah mencari nafkah. Menyalurkan keinginan ke tempat-tempat strategis saja," tegas dosen ilmu politik FISIP UI ini.
Sekarang, orang tidak punya tambang emas atau minyak, tetapi menjadi pemimpin partai bisa lebih kaya dibandingkan pengusaha tambang emas atau minyak. Karena nilai transaksi lebih besar, dibandingkan dengan ekplorasi emas atau minyak.
Kalau yang didukung menang dan berkuasa, maka tambang emas dan minyak bisa dimiliki oleh yang berkuasa dan mendukungnya. Itulah realitasnya Indonesia. Sehingga yang muncul tokoh-tokoh abal-abal belaka. af/ih.

No comments:

©