Friday, 19 October 2012

Rezim Budha Burma Menolak Organisasi Konferensi Islam


Yangoon (voa-islam.com) Rezim diktator Budha di Burma, tegas-tegas menolak kehadiran Organisasi Konferensi Islam (OIC) yang mengunjungi negeri itu.
OIC bermaksud melihat langsung kondisi Muslim di negeri yang sudah dihancurkan oleh penguasa Budha yang didukung para bikshu, dan menyebabkan kehancuran dan kematian yang sangat luas.
Rezim Budha di Birma mengatakan tidak akan mengizinkan Organisasi Kerjasama Islam untuk membuka kantor penghubung setelah ribuan bikshu dan para pengikutnya melakukan aksi demonstrasi yang menolakkehadiran para peninjau OIC.
Kekejaman yang sangat brutal, di mana orang-orang Budha yang didukung pasukan elite militer Burma, melakukan pembantaian dan pembakaran rumah-rumah Muslim di Rhikane. Puluhan ribu Muslim kehilangan tempat tinggal, dan sembagian mereka telah tewas akibat kekejaman dan keganasan rezim Budha, yang tak mengenal lagi ampun terhadap Muslim yang hidup ratusan tahun di negeri itu.
Ketegangan antar  Budha-Muslim itu telah berlangsung sangat dahysat di negara bagian Rakhine barat Burma setelah bentrokan pecah pada bulan Juni antara masyarakat Budha Rakhine dengan Muslim Rohingya , dan mengakibatkan ratusan orang Muslim tewas dan menggusur puluhan ribu penduduknya. Masjid-masjid  Muslim dibakar dalam kerusuhan itu, dan ketegangan masih terus berlangsung.
Sebelumnya, rezim Budha di Burma dan OKI sepakat bulan lalu, yang memberikan izin kepada OIC guna membuka kantor di Rangoon, yang bertujuan melakukan tugas-tugas kemanusiaan, membantu Muslim di negeri itu, yang diusir oleh para milisi Budha yang didukung militer di negeri itu. OIC juga bermaksud mengirim sebuah tim pencari fakta terhadap kekejaman  yang dialami oleh Muslim di negeri itu.
Sementara itu, di situs Kementerian Informasi, yang mengutip pernyataan Presiden yang mengatakan, "Pembukaan kantor OKI tidak akan diizinkan, karena bertentangan dengan aspirasi rakyat."
Menghadapi perubahan sikap rezim Budha di Rangoon itu,  pejabat OIC melakukan protes terhadap keputusan Presiden Burma. Namun, Presiden Burma menghadapi tekanan yang sangat hebat, di mana di empaat kota termasuk kota Rangoon, berlangsung aksi demonstrasi yang dilakukan lebih 5.000 bikshu yang menolak kehadiran para pejabat OIC yang akan berkunjung ke Burma. Mereka berteriak, "Burma  adalah negara Budha, dan menolak pengikut Islam", teriak mereka, Senin.
Spanduk memegang membaca "Kami tidak ingin OIC" dan "Hidup Buddhisme," para pengunjuk rasa berbaris mulai dari pagoda Shwedagon menuju ke pusat kota, dan meneriakkan slogan-slogan menentang OIC dan berhenti di pagoda Sule di pusat kota, yang melumpuhkan lalu lintas di daerah tersebut.
Protes serupa juga digelar di ibukota negara bagian Rakhine Sittwe dan kota kedua terbesar di Myanmar, Mandalay.
Aksi itu, mencerminkan opini publik yang luas, ujar Majalah Weekly Eleven, yang mengatakan tidak ada kebutuhan membuka kantor OIC, karena "kami bukan anggota OIC dan kami bukan negara Islam."
"Jika OIC ingin memberikan bantuan kemanusiaan, mereka dapat melakukannya melalui LSM atau PBB," Daripada Htut Aung mengatakan kepada The Associated Press. "Pembukaan kantor OKI akan mengobarkan ketegangan lebih lanjut antara orang-orang Rakhine dan Bengali, dan kami tidak akan membiarkan pembukaan kantor OKI di Myanmar", tegasnya.

Begitu biadab dan kejinya pemeluk Budha yang selama ini oleh  masyarakat dunia, sebagai agama yang  selalu mengajarkan kasih sayang, dan ketulusan yang sangat menghormati manusia, ternyata mereka kumpulan para pembunuh biadab. af/iwb

No comments:

©