Thursday, 18 October 2012

Percaya Dirilah, Karena Kita Takkan Pernah Bisa Memuaskan Keinginan Orang Lain


ayah dan anakDI sebuah desa, hiduplah seorang ayah yang sangat bijaksana. Setiap gerak langkahnya, tutur katanya bagai mutiara yang mampu menggugah dan memberikan inspirasi dan motivasi kepada anak-anaknya. Semua hal yang dikatakannya tak lain adalah nasihat-nasihat dan ilmu-ilmu yang sangat berharga.
Suatu ketika sang ayah mengajak salah seorang anaknya berjalan-jalan ke sebuah tempat dengan mengendarai seekor keledai kecil. Padahal di dalam kandangnya banyak terdapat keledai-keledai lain yang lebih sehat dan besar. Tetapi kenapa keledai kecil yang dibawa untuk ditumpangi oleh mereka berdua?
Semula si anak pun bingung dengan apa yang dilakukan ayahnya. Tetapi si anak pun diam saja, karena dia tahu bahwa ayahnya itu adalah orang yang bijak dan adil. Ia tak mau banyak membantah apa yang diperintahkan oleh sang ayah. Dan berjalanlah mereka berdua dengan dengan menaiki seekor keledai kecil itu.
Singkat cerita, mereka berdua melewati sebuah desa yang sangat indah. Disana mereka berdua menikmati pemandangan alam yang sangat menawan. Tak lama kemudian, banyak orang-orang yang memarahi ayah dari si anaknya itu dengan perkataan “Kamu ini bodoh, kenapa keledai kecil ini kalian berdua naiki?? Apa kalian tidak malu dengan badan kalian yang besar itu? Badan sebesar kalian malah menunggangi keledai kecil. Dasar orang Kampung,” ucap warga desa kepada sang Ayah. Lalu turunlah sang ayah dan anak pun dari keledai itu. Lalu berjalanlah mereka berdua dengan menuntun keledai bersama-sama.
Melewati desa yang lain lagi, ada juga warga yang marah kepada ayahnya lagi dengan perkataaan “Buat apa kau bawa keledai kalau tidak kalian tumpangi, menyusahkan diri saja.” Lalu naiklah sang anak ke atas keledai itu. Kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.
Ketika melewati pasar, masyarakat menatap ke arah ayah dan anak, serta merta terdengar teriakan kepada sang ayah dan anak lagi. “Dasar anak tak tahu diri, kamu malah enak-enak naik keledai sendiri. Ayahmu disuruh berjalan. Apa kamu gak takut jadi anak durhaka, hah??” Lalu turunlah sang anak dan naiklah sang ayah ke atas keledai itu.
Baru beberapa meter berjalan, ada orang yang marah lagi kepada mereka berdua. “Aduh… dasar ayah tak tahu diri, ingat umur! Anak malah disuruh jalan. Anda enak-enak diatas sana..aduh..aduhh..aduhh.”
Lalu sang anak pun kemudian kebingungan atas semua kejadian yang telah terjadi. Semuanya tidak ada yang benar, semua yang diperbuatnya dianggap salaholeh orang. Lalu sang ayah pun menepuk pundak sang anak dan berkata, “Duhai anakku, hari ini engkau telah belajar bahwa jika engkau menuruti apa yang diinginkan orang lain pasti tidak akan pernah ada habis-habisnya. Jadilah dirimu sendiri,” ucap sang ayah. [Taufik Sutyarahman]

No comments:

©