Wednesday, 24 October 2012

Musim Haji, Bahasa Isyarat Populer Di Mekah

TAK BANYAK calon haji yang menguasai bahasa Arab, terutama bagi jemaah yang baru pertama kali menginjakan kakinya di tanah suci. Tak heran jika mereka kebingungan menghadapi sejumlah situasi setiba di sana, terutama ketika berinteraksi dengan penduduk setempat dan jemaah mancanegara.
Bagi mereka yang tidak lancar atau bahkan tidak mengerti Bahasa Arab dan Inggris, maka bahasa isyarat-lah satu-satunya yang bisa digunakan sebagai “alat komunikasi khusus” seperti mengangguk, tersenyum, gerakan tangan, dan bahkan gambar.
“Saya berurusan dengan jamaah dari Asia menggunakan bahasa isyarat,” kata Ali Abdullah, seorang penjaga toko asal Sudan yang tinggal di Makkah.
“Saya bisa menangani lebih baik jamaah haji asal Nigeria dan Afrika lainnya yang biasanya bisa berbahasa Inggris, tapi jamaah Asia memiliki bahasa mereka sendiri yang saya tidak bisa mengerti,” imbuhnya.
Bekerja di Makkah selama lima tahun terakhir, Abdullah mencoba untuk meningkatkan keterampilan komunikasi untuk berurusan dengan pelanggannya.
Lain halnya dengan kasus Rasheed Ali, dari Burma. “Saya bisa berbicara dalam 10 bahasa,” katanya. “Saya belajar dari mereka yang semua bekerja di sini selama 17 tahun,” imbuhnya bangga.
Majed al-Qulaisi, seorang pedagang Saudi, juga berhasil belajar bahasa Turki, Malaysia, dan beberapa bahasa Rusia selama dua sampai tiga tahun.  Tapi dengan jamaah Afrika, ia masih berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat.
“Kadang-kadang para Jama’ah tidak mengerti apa yang saya katakan. Bisa saja saya mengatakan sesuatu yang justru membuat mereka berbeda menafsirkannya,” katanya.
Beberapa jamaah haji juga mencoba untuk mempelajari beberapa bahasa Arab.  “Saya telah belajar beberapa kosakata Arab untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sini. Saya sudah bisa mengatakan ‘syukran’ yang berarti terima kasih dan ‘shabr’ yang berarti sabar, ” kata seorang jamaah haji asal Nigeria.
Pemerintah Saudi juga berusaha untuk membuat lebih mudah bagi jamaah haji, telah mengambil beberapa langkah untuk membantu mengatasi tantangan linguistik. Pejabat dari kementerian haji Saudi banyak yang telah memberikan petunjuk dan nasihat dalam berbagai bahasa.
Pemerintah Saudi juga juga telah mengatur jutaan buku, film, mushaf Al-Quran, dan kaset dalam berbagai bahasa yang akan dibagikan kepada jamaah haji.
Outlet media menyediakan informasi dalam 32 bahasa yang berbeda. Sebuah hotline, layanan manasik, juga telah dibentuk untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari para peziarah dalam bahasa Arab, Inggris, Perancis, Urdu, Indonesia, Turki, Bengali, dan Hausa.
Pemerintah Saudi juga telah meluncurkan aplikasi telepon yang memberikan penjelasan sederhana tentang ritual haji dalam empat bahasa –Inggris, Arab, Indonesia, dan Urdu. [nr/islampos/onislam]

No comments:

©