Friday, 19 October 2012

Mendoakan Keburukan atas Mereka yang Memusuhi Islam dan Kaum Muslimin


Oleh: Ustadz Abu Misykah
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah yang berjanji menolong hamba-Nya yang beriman. Dzat Mahakuasa dan Mahakeras siksa-Nya. Berbuat apa yang Dia kehendaki. Menetapkan keputusan sesuai apa yang diinginkan-Nya. Kepada-Nya semata kita beristi'anah dan bertawakkal serta menyerahkan segala urusan.
Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga, para sahabatnya, dan setiap insan beriman yang berpegang dengan ajarannya dan melanjutkan perjuangannya.
Anjuran Memberi Maaf
Pada dasarnya, Islam memerintahkan umatnya untuk menjadi pemaaf. Tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa, apalagi lebih. Islam menganjurkan untuk menahan diri dari membalas kezaliman orang terhadap dirinya, baik dalam bentuk mencaci dengan lisannya, memukul dengan tangannya, atau mendoakan keburukan terhadapnya. Kemudian Islam menganjurkan untuk memaafkan pelakunya dan membalas keburukannya dengan kebaikan.
Bersabar, memberi maaf, dan membalas keburukan dengan kebaikan itu bagi siapa yang masih diharapkan kebaikannya. Tindakan tersebut dilakukan sebagai perwujudan akhlak mulia yang ditunjukkan kepada mereka yang ada penyakit dalam hatinya agar tersadar, lalu kembali kepada jalan yang benar. Syarat lainnya, selama kezaliman itu tidak ditimpakan juga kepada selainnya dan tidak merusak agama.
Menahan diri dan memaafkan tidak berlaku bagi mereka yang bertambah kezalimannya terhadap orang-orang bertakwa. Jika ia dimaafkan (dibiarkan) semakin bertambah kezalimannya, maka menumpas pelaku kezaliman itu wajib hukumnya. Apalagi kezalimannya tersebut berakibat rusaknya tatanan agama masyarakat, maka membersihkannya dari muka bumi lebih wajib lagi.
Jika tidak mampu memusnahkan pelaku kezaliman yang semacam itu dengan tangan, maka diperbolehkan dengan doa. Yakni mendoakan kebinasaan dan kehancuran atas mereka-mereka. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Musa 'Alaihis Salam yang diabadikan dalam Al-Qur'an,
وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ
"Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih. " (QS. Yunus; 88)
Syaikh Sa'di menuturkan, "Musa mengucapkan itu karena marah terhadap mereka, di mana mereka sudah melanggar larangan-larangan Allah, merusak hamba-hamba Allah, dan menghalangi dari jalan-Nya. Oleh karena sempurnanya ma'rifahnya terhadap Rabbnya, dia yakin Allah akan menghukum mereka atas perbuatan mereka, yakni dengan menutup pintu iman atas mereka."
Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi menyimpulkan hidayah dari ayat di atas, "Disyariatkan mendoakan kehancuran atas pelaku kezaliman." (Lihat Aisar al-Tafasir terhadap ayat di atas)
. . . Jika tidak mampu memusnahkan pelaku kezaliman yang semacam itu dengan tangan, maka diperbolehkan dengan doa. . .
Memberi Maaf yang Tidak Terpuji
Menurut Syaikh Ibnul Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin, bahwa memberi ampun kepada siapa yang berbuat buruk kepada kita tidaklah terpuji secara keseluruhan. Allah mengikat pemberian maaf ini dengan al-ishlah (usaha membaut perbaikan). Maka jika suatu tindakan pemaafan tidak membuat orang yang diberi maaf menjadi baik sementara kejahatan tersebut tetap berlanjut, maka memberi maaf tidak dianjurkan. Beliau mendasarkan kepada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
"Maka Barang siapa memaafkan dan berbuat perbaikan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (QS. Al-Syuura: 40)
Maka, menurut beliau, jika dalam pemberian ampun dan maaf tersebut tidak membuahkan ishlah, maka janganlah beri maaf dan ampun. Kemudian beliau memberi contoh: apabila ada seseorang yang terkenal jahat dan perusak berbuat jahat terhadapmu, jika engkau memaafkannya maka ia akan bertambah berbuat jahat. Maka dalam hal ini yang paling utama ia jangan diberi maaf, tapi kamu harus direbut hakmu yang telah ia rampas untuk membuatnya jera atau menghentikan kejahatannya.
Beliau memberi contoh yang lain: Jika ada seseorang yang telah berbuat jahat kepadamu dengan memukulmu, atau mengambil hartamu, atau menghinamu atau yang semisalnya, apakah yang paling utama memaafkannya ataukah tidak?
Dalam hal ini beliau membuat perincian: Jika orang itu adalah orang nakal dan jahat yang apabila engkau memaafkannya ia akan bertambah menyakitimu dan selainmu, maka jangan engkau beri maaf kepadanya. Rebut hakmu dari tangannya selama tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar atasmu atau engkau laporkan kepada pihak berwajib yang memiliki kekuasaan syar'i berada di bawah pemerintahan Islam.
Maka dalam hal ini, terhadap penghinaan orang-orang kafir terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Islam seorang muslim tidak boleh berhenti pada memberi maaf. Karena jika ini yang dilakukan, mereka akan semakin kurang ajar terhadap kaum muslimin.
Contoh lainnya: kejahatan yang dilakukan aparat-aparat yang berlaku zalim terhadap aktifis muslim, memberikan steriotip buruk terhadap aktifitas dakwah dan jihad, merusak kehormatan ulama, menghalangi dari ibadah kepada Allah –sebagaimana yang dilakukan Densus 88 yang tidak memberi kesempatan kepada Ustad Abu Bakar Ba'asyir untuk menegakkan shalat Shubuh saat dipindahkan ke Nusa Kambangan- jika dimaafkan mereka akan semakin bertambah jahat dan zalim kepada kaum muslimin yang lain, maka membalas kezaliman mereka walau hanya dengan bentuk doa adalah yang paling utama. Karena memaafkan mereka tidaklah akan membuahkan perbaikan kondisi kaum muslimin dan tidak pula menghentikan  kezaliman mereka.
Semoga Allah mau menolong para mujahidin yang senantiasa berjuang menolong agama-Nya, meneguhkan langkah mereka, mengokohkan pendirian mereka, dan menurunkan pertolongan-Nya untuk mereka sehingga terwujud kemenangan Islam di bumi Allah ini.
Tidak lupa kita berdoa, semoga Allah penuhi kubur orang-orang yang suka menghalangi manusia dari jalan Allah dan melarang hamba-Nya dari menegakkan shalat dengan semestinya. Semoga Allah butakan mata mereka semagaimana buta mata hati mereka. Semoga Allah buat tuli telinga mereka sebagaimana mereka menutup telinga dari kebenaran. Semoga Allah pincangkan kaki-kaki mereka karena mereka gunakan keduanya untuk mendatangi dan membunuhi wali-wali-Nya. Amiin. [PurWD/voa-islam.com]

No comments:

©