Wednesday, 31 October 2012

Jika Ultraman Pergi


ultramanOleh: Rahma Damayanty Rivai
ULTRAMAN akan ber-iedul adha di tanah kelahirannya. Mama, ikhlas melepas perjalanannya. Tetapi beberapa jam setelah itu, terasa sekali kehilangannya.
Kilasan potret masa lalu silih berganti hadir seperti sedang memutar slide film. Adegan pertama, episode memandikannya. Jahitan di perut masih terasa sakit. Infeksi akibat kelalaian dokter membuat derita operasi caesar tak usai. Aku membungkuk memandikannya, pelan-pelan. Penuh kasih sayang. Ultraman yang berkulit putih, sangat senang dimandikan. Tiada tangis. Tiada keluhan.
Prosesi tetap yang ku lakukan setelah ia mandi adalah, menciumi kedua pipinya. Subhanallah. Sungguh sebuah keindahan. Ia akan mengantuk setelah itu. Sebelum memasanginya baju, aku selalu siaga menutup bagian bawahnya dengan kapas atau tissu bayi. Karena, ia selalu otomatis mengirim air mancur, ketika kita memasang singletnya. Cukup satu kali, dan aku belajar untuk tak mencuci muka dari air yang hangat itu.
Ia kan menyusui lebih dari satu jam setelah mandi. Itu adalah episode panjang yang membahagiakan. Setiap ia menyusui, maka  aku berdoa agar Allah mencukupkan kebutuhannya. Nyeri pasca operasi tidak sebanding dengan kebahagiaannya. Ia akan terlelap dan tidur dengan mengembangkan kedua tangannya di samping kepala. Sedari kecil, aku tak membedongnya. Selain karena tak pandai, pak Dokter juga melarang. Hanya ketika petir menyambar, aku membedongnya, karena bayi kecil itu akan terkaget-kaget mendengar petir menyambar.
Aku membawanya kemana saja. Aku tak memiliki pengasuh untuknya. Akulah pengasuhnya. Aku menggendongnya ketika berbelanja, dan main ke rumah sahabat-sahabat. Ketika masak, aku tidurkan dia dekat ayunan di pintu dapur. Hidupku penuh dengan dirinya.
Aku tak pandai bernyanyi, tapi aku selalu bernyanyi untuknya. Semua lagu anak-anak aku hapalkan. Di usia 3 bulan, ia mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku. Jika ia terlelap pukul 9 malam, aku akan menghabiskan waktu berjam-jam menyetrika pakaiannya. Kadang hingga tengah malam. Bogor sering hujan. Dan ia kencing sesering hujan.
Sedari bayi, ia tak menyukai diapers bayi. Selalu menangis. Jadi, jika tak terpaksa, tak pernah ku pakaikan. Aku mengajarinya memberi tanda ketika kencing. Jadi ketika di jalan, bayi kecil itu akan kencing di atas diapersnya. Aku aman dari celana yang diompolin.
Ia berkali-kali diare. Juga disangka demam berdarah. Untuk keperluan tes laboratorium, maka ia akan disuntik dan diambil darahnya.  Ia tak menangis. Hanya sekedar merengek.
Ia bukan bayi yang tenang. Ia menangis tepat pukul 9 malam hingga subuh menjelang. Obatnya, hanya digendong ibunya sambil jalan-jalan. Sungguh, aku kepayahan. Jika aku menggendongnya dengan duduk, suara tangisannya menembus dinding rumah tetangga. Rumah Pak RT juga. Namun, ia tumbuh sehat dan tak pernah kurang berat badan.
Setiap kali aku sembahyang, ia menunda tangisnya. Ku rasa itu sebuah toleransi alami bayi, ketika ibunya menghadap Tuhan. Selepas mukena di lipat, ia akan mendemonstrasikan lengking tangisnya. Usia 2,5 bulan, ia sudah ku bawa berkendara 12 jam dengan mobil travel. Usia 4,5 bulan, ia ku bawa naik Garuda Indonesia ke kampung neneknya. Jika ku lihat perjalanan ke belakang, aku begitu haru. Tak terasa, bayi kecilku dalam beberapa hari akan genap berusia 9 tahun.
Ultraman adalah sumbu bagi nyalaku. Alasan bagiku bertahan kuat dan tegar. Selalu tak ingin rapuh. Jika ia memelukku dan merengek ketika aku akan berangkat bepergian, aku akan memeluknya sepenuh sayang, tanpa air di telaga mataku. Sungguh, aku ingin mencipta dunia yang baik-baik saja padanya. Padahal masa depan, tak dapat ku eja sekarang. Hanya berharap, Allah senantiasa menuntunku pulang, jika aku sesat dalam kembara sendirian.

No comments:

©