Tuesday, 23 October 2012

Ikh Style


Oleh:  Tammi Tinami Fianiati, Peminat Dunia Keluarga
BAJU koko, celana kain, sendal kulit asli or aspal, berjenggot, rambut wetlook, wajah relatif herang (bahasa sunda); saya agak sulit mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, artinya kurang lebih, bening, tapi itu juga kurang tepat. Entah sejak kapan, ciri khas para ikhwan, ya seperti itu. Entah siapa pula yang mempopulerkan gaya ini di kalangan aktivis dakwah.
Ikh-style -istilah saya (untuk deskripsi gaya ikhwan di atas) meminjam istilah J-style- bisa dikatakan sudah mendarah daging di kalangan ikhwan. Seakan sudah menjadi suatu identitas agama, sebagaimana jilbab untuk muslimah. Tapi, kenapa ya style yang sudah melekat ini tidak dapat menembus kalangan umum? Baca; tidak dapat menarik hati para pemuda kalangan ammah sebagai salah satu fesyen mereka. Yaa, paling ada untuk lebaran, itu juga hanya beberapa jam saja, formalitas thok.
Tidak ada salahnya jika berkata pada J-style yang kini tengah digemari dan membanjiri dunia fesyen. J-style merupakan ekspresi bebas gaya berpakaian para pemuda Jepang dengan segala kreasi khasnya yang orisinal dan selalu memberikan sentuhan budaya yang lain, sehingga pada puncaknya menjadi trendster, tidak hanya dalam komunitas masyarakat Jepang saja, namun mendunia.
Ada yang salah dengan ikh-style sehingga kurang populer bahkan di kalangan laki-laki muslim? Memang, sepertinya masalah ini bukan hal prinsip dan hanya remeh-temeh dibanding belantara dakwah dengan permasalahan rumit, njlimet dan bernilai tinggi. Namun, coba kita simak bagaimana dampak J-style kini. Pada perkembangannya, demam J-style tidak hanya sebatas efisien namun sudah merambah pada sisi lain para J-style; kebiasaan dan nilai-nilai yang mereka anut. Begitu besarnya pengaruh suatu tren. Bahkan dengan semangat J-style, wajah-wajah oriental mulai diperhitungan di belantika media yang full komersil setelah sebelumnya Barbie dan Ken menjadi monopoli gambaran ideal wajah dan fisik yang sempurna.
Mungkin, baju koko yang dikenakan para ikhwan kurang menarik, dari sisi model maupun warna. Kemeja tanpa kerah, bahan katun agak tipis, berkancing depan; full atau sebagian, sesekali ada bordir. That’s all! Belum pernah saya melihat ikhwan memakai baju koko dari bahan jeans atau bermodel overcoat, misalnya. Warna dove menjadi favorit, putih jadi warna wajib. Warna crong? Sepertinya para munsyid yang hendak manggung saja yang biasanya memilih warna agak ngejreng. Saya tidak tahu, apa memang tidak ada disainer yang berani bereksperimen karena khawatir produknya tidak laku hingga ikh-style begitu monoton atau para ikhwannya yang punya selera monoton?
Saya jadi teringat dengan tokoh ‘si Mamih’ dalam karikatur karya Budi Riyanto dalam majalah berbahasa Sunda yang popular tahun 80-an. Si Mamih memiliki selusin pakaian dengan model yang sama; semacam daster dengan corak yang sama warna putih polkadot hitam. Kapanpun, dimanapun, dalam situasi apapun, bajunya itu-itu saja. Kesannya tidak pernah ganti baju. Tentu saja hiperbola jika dianalogikan pada ikh-style. Eh, tapi sepertinya agak mirip.
Padahal, jika kita telusuri bagaimana Rasulullah saw. berpakaian, beliau juga memakai pakaian dengan beragam model dan warna, meskipun jarang bertahan lama dipakai, karena disedekahkan. Pernah beliau mengenakan jubah berwarna merah dengan bahan kain yang halus (tentunya bukan terbuat dari sutra), dikisahkan Rasulullah saw. tampak lebih cemerlang dibanding terangnya bulan purnama. Apa artinya? Warna jubah yang dikenakan beliau kemungkinan merah cerah. Dalam riwayat lain disebutkan, beliau menyukai warna hijau selain putih.
Apa salahnya juga jika para ikhwan sedikit memperlihatkan wajahnya. Tidak hanya herang oleh air wudhu, tapi juga bersih dari jerawat yang memerah atau komedo yang memutih matang dan tentu saja bebas dunggak alias hidung badak serta olfree. Begitu juga rambut yang fresh (bukan lepek atau lembap karena perpaduan rambut berminyak, air wudhu dan ketombe), tumit kapalan diobati. Jenggot yang lebat tidak gimbal, jenggot yang tipis (apalagi yang hanya 2-3 helai) tidak maksa panjang bermili-mili senti; meski tentu tidak menafikan sunnah memanjangkan jenggot. American Medical Journal melegitimasinya dengan hasil penelitian manfaat dari memelihara jenggot; memiliki kecendrungan umur yang panjang dan mencegah kanker. Namun mbok yang jenggot itu tetap terawat rapih dan nyeni.
Kalau begitu, apa bedanya tektek-bengek ini dengan gaya para lelaki metroseksual yang kini tengah in  di kalangan remaja pekerja kelas menengah alias para eksmud (eksekutif muda)? Mungkin judulnya saja yang sama: perawatan diri. Tapi dalam proses selanjutnya tentu menjadi jauh berbeda karena untuk ikhwan, mereka memiliki batasan syariat dalam kerangka ibadah; tidak menyalahi fitrah, tidak tabaruj or ishraf, tidak menyerupai lawan jenis, tidak mengubah ciptaan, bahan yang halalan thayyiban, proses yang syar’i . Ikhwan perawatan diri? Apa tidak berlebihan? Tidak juga. Bukankah Rasulullah saw. kemana-mana senantiasa membawa sisir dan siwak serta senang memakai wewangian? Itu sudah berupa hujjah kuat bahwa ikhwan tidak boleh anti merawat diri, yang penting dilakukan di belakang layar dan sesuai kaidah.

No comments:

©