Tuesday, 23 October 2012

‘Ia Datang Bukan untuk Bertanya’


islampos.com—KETIKA Rasulullah menceritakan kisah perjalanannya yang ajaib dalam peristiwa Isra Miraj kepada kaumnya, yang terdiri dari orang-orang Quraisy, penduduk Mekkah terpecah menjadi tiga golongan.
Sebagian besar adalah orang-orang kafir yang makin tidak percaya kepada Muhammad. Bahkan menganggapnya gila. Golongan kedua adalah orang-orang yang tadinya beriman, tetapi kemudian murtad begitu mendengar Nabi bercerita yang bukan-bukan dan tidak masuk akal sama sekali. Hanya sebagian besar saja makin kuat imannya. Antara lain sahabat Abu Bakar Asshidiq. Bahkan, jika ada yang bertanya kepadanya apakah Abu Bakar memercayai keterangan Muhammad yang mustahil itu, sahabat tersebut menjawab, “Lebih dari itu pun, kalau yang bercerita Muhammad, aku pasti percaya,” tegas. Tak ada keraguan.
Akibat keadaan yang menyedihkan itu, Nabi dengan sedih tertunduk di depan Kakbah sambil terus memikirkan kaumnya yang keras kepala. Ia sangat kasihan kepada mereka. Bagaimana nasib-nasib orang-orang kafir itu di akhirat kelak kalau terus-terusan membangkang kepada kebenaran Allah swt?
Tiba-tiba datanglah salah seorang pemuka Quraisy—anak muda yang berbadan tinggi besar serta tegap. Seraya menghardik dengan suara keras, ia bertanya kepada Nabi, “Aku dengar kau baru terbang ke langit, hai Muhammad?”
Nabi mendongak. Ia tersenyum ramah. “Tidak. Aku baru saja diperjalankan oleh Allah untuk menghadap ke hadirat-Nya.”
“Pokoknya kau mengaku terbang ke langit bukan?” desak orang musyrik itu. “Coba sekarang aku ingin melihat buktinya….”
Nabi mengernyitkan dahinya. “ Apa maksudmu?” tanyanya.
Orang itu bersikap makin menjengkelkan. Ia berkata dengan nada yang penuh hardikan, “Berdirilah kau, Muhammad!”
Nabi menurut. Ia pun berdiri sebab Nabi adalah pemimpin yang sangat sabar dan tasamuh, penuh toleransi kepada siapa saja.
“Angkat sebelah kakimu, yang kanan!” perintah pemuda jagoan itu dengan kasar dan sangat kurang ajarnya.
Nabi tetap menurut. Diangkatnya kakinya yang kanan.
“Sekarang angkat pula kakimu yang kiri. Yang kanan, jangan diturunkan…,” lanjut si kafir itu.
Nabi menarik nafas panjang di dadanya. Ia berkata dengan rendah hati, “Bila kuangkat pula kaki yang kiri, sedangkan yang kanan masih di atas, aku bakal jatuh terguling…”
“Ha ha ha ha,” si pemuda tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan suara yang keras dan penuh dengan nada puas serta kemenangan.
“Apa yang lucu? Kenapa kau tertawa?” tanya Nabi keheranan.
“Ha ha ha, Muhammad. Inilah buktinya bahwa engkau pembohong. Tukang bual yang besar mulut. Mengangkat dua kaki dari atas tanah satu jengkal saja tidak mampu. Apalagi terbang ke langit… ha ha ha ha ha…..”
Nabi masih saja tetap tenang. Ia memandangi pemuda itu, namun sejurus kemudian ia berkata, “Barangkali kalau kau ingin bukti lebih lanjut, datangilah sahabatku Ali bin Abi Thalib. Dia masih muda dan sebaya denganmu. Mungkin dia bisa menerangkan yang cocok dengan keinginanmu tentang perjalanan Isra Miraj-ku…”
Si pemuda mengangguk-angguk kepalanya. “Hmmm, baik. Aku akan datangi dia!” ujarnya.
Maka dicarilah sahabat Ali oleh orang musyrik yang sombong dan kasar itu. Waktu itu, Ali sedang berkumpul bersama beberapa sahabat lainnya. Orang kafir itu memanggil Ali, dan Ali mendekatinya.
“Ada perlu apa kaupanggil aku, ha?” tanya Ali.
“Begini, “jawab si pemuda kafir itu dengan sombong. “Aku baru saja mendatangi saudaramu yang gila, si Muhammad itu. Aku tanya, apakah betul dia baru terbang ke langit. Dia menjawab betul. Kusuruh buktikan dia dengan cara mengangkat kedua kakinya bersama-sama, satu jengkal saja dari atas tanah, tetapi dia menjawab tidak bisa. Nah, aku ejek dia, aku tertawakan dia seketika saking lucunya, karena ia nyata-nyata berbohong kan? Nah, ia menyuruhku untuk datang kepadamu. Katanya, kau Ali, dapat menjelaskan peristiwa Isra Miraj kepadaku lebih terang dan jelas lagi. Karena engkau seusia denganku. Apakah itu benar?”
Ali mendelik. Sekian detik ketika ia mendengar perkataan orang di hadapannya, ia mendengus. Tanpa mengeluarkan sepatah kata jua, ia dengan sebat hampir tidak kelihatan oleh mata, mencabut pedangnya.
Orang kafir itu kebingungan. “Kenapa kau cabut pedangmu?” Sambil berkata seperti itu, ia pun dengan begitu saja hendak mengeluarkan goloknya.
Namun, gerakannya tidak cukup cepat dibandingkan dengan sebatan pedang Ali. WUSSHHHHHH!!!! Sekali gerak, Ali mengarahkan pedangnya ke leher orang kafir itu. Darah memuncrat. Sejenak kemudian si pemuda itu terkapar. Ali mengelap-elap pedangnya yang bersimbah darah.
Para sahabat yang menyaksikan peristiwa itu cepat-cepat mendatangi Ali bin Abi Thalib dengan cemas dan keheranan. Mereka menegur dengan keras, “Hai, anak Abi Thalib, alangkah gegabahnya kau! Kejam dan tak berprikemanusiaan! Bukankah Rasulullah menyuruhmu menerangkan kepadanya tentang peristiwa Isra Miraj, bukan untuk membunuhnya?”
Ali melirik ke arah mereka. Dengan tenang, ia mengacungkan pedangnya tegas ke arah mayat yang masih membujur bersimbah darah itu, “Dia ini, Rasulullah sendiri yang bercerita, orang kafir itu ini tidak percaya. Malah menghina dan mengejeknya. Padahal Rasulullah yang mengalami peristiwa itu sendiri, berarti keterangan beliau lebih jelas dan gamblang daripadaku. Tutur kata beliau juga halus dan sopan dibandingkan dengan diriku. Ceritanya lebih terperinci karena beliaulah yang mengetahui rahasia Isra Miraj dengan pasti. Apalagi kalau sekadar Ali bin Abi Thalib yang bercerita, tak bakal dia percaya. Kedatangannya bukan hanya ingin bertanya  mencari tahu. Ia hanya ingin mengejek dan merendahkan keimanan kita. Maka satu-satunya jalan agar dia percaya, mati dulu baru dia tahu terhadap perkara-peraka yang ghaib selama ini!”
Para sahabat akhirnya mengangguk-angguk menyetujui pendirian Ali Bin Thalib karena agama memang merupakan pegangan hidup yang tidak layak dijadikan sebagai bahan pergunjingan atau ejekan.  [sa/islampos/diambil dari buku: 'Peri Hidup Rasul & Para Sahabat, karya: Saad Saefullah]

No comments:

©