Friday, 26 October 2012

Hukum Fisika Dan Ritual Ibadah Haji


HARI ini, ritual ibadah haji yang dilakukan umat muslim telah berada di puncaknya. Seluruh jemaah haji dari seluruh dunia wukuf di padang Arafah. Namun, jauh sebelumnya mengenai ritual pelaksanaan ibadah haji, tahukah Anda apa rahasia di balik itu semua?
Semua orang tentu tahu pelaksanaan ibadah haji salah satunya di kota Mekkah, kota tempat Ka’bah berada. Nah, bagi orang yang memahami hukum Fisika dan banyak mempelajari tentang salah satu kehebatan kota Mekkah maka akan menemukan sesuatu yang baru. Temuan itu memperkuat keyakinan, Islam agama yang datang dari Allah Yang Maha Esa. Sekaligus, membuat diri semakin dekat kepada pencipta dan terasa kerdilnya diri di sisi Tuhan.
Prof. Norhisham Wahab, pendiri Color Vaibration Therapy banyak mempelajari tentang kaitan praktek haji dengan sains menjelaskan, Mekah adalah wilayah yang memiliki gravitasi paling stabil. Bisa dikatakan ia daerah paling aman di dunia. Tidak berlebihan kalau dikatakan, jika suatu hari nanti bumi mengalami kekacauan dan malapetaka, Mekah adalah bumi yang paling aman untuk ditinggali.
Prof. Nohisham juga menjelaskan tekanan gravitasi yang tinggi berdampak langsung pada sistem imun tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala serangan penyakit. Sebenarnya ketika berada di sana, sistem imun akan menjadi lebih kuat secara alami tanpa bantuan vaksin.

Pengaruh gravitasi banyak berperan untuk merangsangkelenjar pineal (pineal gland) yang terletak di otak tengah untuk mengontrol kekuatan sistem imun. Memang sudah dibuktikan saat berada di Mekah yang sakit akan jadi sehat dan yang lemah akan bertenaga. Bila gravitasi tinggi maka banyak elektron ion negatif yang berkumpul di situ. Sebab itulah doa akan termakbul karena di situ adalah tempat gema atau ruang dan waktu bersamaan. Apa yang diniatkan di hati adalah gema yang tidak bisa didengar tetapi bisa terdeteksi frekuensinya.
Pengaruh elektron menyebabkan kekuatan internal kembali tinggi, penuh semangat untuk melakukan ibadah, tidak ada sifat putus asa, mau terus hidup, penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
Ketika berada di sisi Ka’bah perasaan akan segera berubah menjadi hening, tenang, sayu, rendah diri, kerdil pada kebesaran tuhan. Semua itu adalah pengaruh dari tekanan gravitasi yang tinggi. Meskipun ada niat jahat Yahudi atau Kristen untuk menghancurkan Mekah, cobaan itu tidak akan berhasil. Setinggi mana teknologi militer negara-negara maju tetapi tidak dapat menembus Mekah. Andai kata ada rudal yang diarahkan ke Mekkah untuk menghancurkannya, itu pun tidak akan berhasil.
Gelombang radio tidak bisa mendeteksi posisi Ka’bah. Begitulah hebatnya tempat yang Allah pilih sebagai kiblat bagi umat Islam. Sudah pastinya manusia biasa tidak mampu menciptakan sesuatu sehebat itu. Bahkan teknologi satelit pun tidak bisa mereropong apa yang ada di dalam Ka’bah. Frekuensi radio tidak mungkin dapat membaca apa-apa yang ada di dalam Ka’bah karena tekanan gravitasi yang tinggi.
“Tempat yang paling tinggi tekanan gravitasinya, memiliki konten garam dan aliran anak sungai di bawah tanah yang banyak. Sebab itulah jika shalat di Masjidilharam meskipun di tempat yang terbuka tanpa atap masih terasa sejuk.Sujud, dahi menyentuh lantai masih terasa dingin mamar yang dipanah matahari karena tekanan gravitasi tinggi itu, “terangnya.
“Kita pergi ke sana untuk penyerahan diri pada tuhan, rasa kerdil pada kebesaran Nya. Secara otomatis akan menyebabkan kita lupa pada urusan dunia dan kesusahan yang ditempuh. Pemusatan pikiran hanya kepada Allah tuhan yang satu, ia akan datang dengan sendirinya saat berada di Mekah karena semua itu ada kaitan dengan kekuatan Ka’bah sebagai pusat bumi,” tambahnya.
Tambahnya lagi, Ka’bah bukan sekedar bangunan hitam empat persegi tetapi satu tempat yang ajaib karena di situ pemusatan energi, gravitasi, zona magnetisme nol dan tempat yang paling dirahmati. Mengapa bermalam di Muzdalifah dan Mina menjadi satu hal yang wajib sebelum melontar ketiga jumrah. Di balik semua itu ada tujuan ketika Allah menurunkan perintahnya. Menurut Prof Norhisham, wajib haji itu bertujuan mendapatkan cukup istirahat untuk memulihkan tenaga sebelum kembali ke Masjidilharam menunaikan tawaf dan sai.

Tidur di Mina untuk mendapatkan energi secukupnya sebelum tawaf
“Tidur dengan posisi menghadap Ka’bah secara otomatis otak tengah akan terangsang sangat aktif sampai tulang belakang.
Pengaruh gravitasi itu penting untuk menentukan kedudukankan tulang belakang untuk menghasilkan sel darah. Ini adalah sebagai langkah persiapan untuk melakukan rukun haji yang berikutnya sebab itulah diwajibkan bermalam.
“Saat tawaf nanti membutuhkan tenaga yang banyak untuk mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Bila bermalam di Mina seolah-olah kita sudah dapat baterai baru untuk melakukan rukun yang lebih menantang lagi, “jelasnya. Sedangkan mengenai tawaf pula memang banyak keistimewaannya.
Pergerakan mengelilingi Ka’bah arah lawan jam memberikan energi hidup alami dari alam semesta. Sebenarnya pusat bumi itu bukan sekadar untuk bumi saja tetapi ia seakan satu ruang atau saklar yang mengontrol seluruh alam semesta, bintang, matahari, planet dan ruang angkasa. Berarti pusat bumi itu ada energi yang cukup kuat yang tidak bisa dili hat, dengar, rasa tetapi bisa terdeteksi frekuensinya.
Prof. Norhisham juga menjelaskan pergerakan lawan jam di dalam jumlah tujuh putaran. Katanya, semua yang ada di alam ini bergerak menurut lawan jam, Allah telah tentukan hukumnya begitu. Elektron mengelilingi nukles, molekul protein terbentuk dari kiri ke kanan, darah beredar juga dari arah yang sama di dalam tubuh, sperma juga beredar menurut lawan jam, matahari, bulan dan planet semuanya berputar sesuai hukum yang sama.
Peredaran darah atau apa saja di dalam tubuh manusia sesuai lawan jam. Justru dengan mengelilingi Ka’bah sesuai lawan jam, berarti sirkulasi darah di dalam tubuh meningkat dan sudah tentunya akan menambah energi. Sebab itulah orang yang berada di Mekkah selalu bertenaga, sehat dan panjang umur.
“Sedangkan jumlah tujuh itu adalah simbolik ke tidak terhingga banyaknya. Angka tujuh itu berarti tidak terbatas atau terlalu banyak. Dengan melakukan tujuh kali putaran sebenarnya kita mendapat ibadat yang tidak terbatas jumlahnya, “terang Prof Norhisham.
Sedangkan di dalam menunaikan rukun haji, ada hal yang dilarang selama berihram seperti tidak bisa tutup kepala, muka dan tapak tangan. Rambut, jenggot tidak bisa dicat minyak, tidak bisa menghilangkan bulu dan rambut, memotong kuku dan memakai pakaian sarung yang ber jahit-khususnya untuk pria.
www.zharifalimin.blogspot.com

No comments:

©