Friday, 19 October 2012

Generasinya Kartosuwirjo-Natsir Dikalahkan Oleh Generasinya Soekarno?


Jakarta (voa-islam.com) Sejak kemerdekaan sampai hari ini tak pernah bergeser pendulun politik di Indonesia. Pendulun tetap berada di tangan kekuatan politik nasionalis-sekuler. Partai-partai nasionalis-sekuler, tetap dominan dalam jagad politik Indonesia.
Pasca kemerdekaan, kekuatan partai-partai nasionalis-sekuler, seperti PNI, PKI, Sosialis, dan sejumlah partai-partai sekuler lainnya, terus menguasai landscape politik di Indonesia.
Hanya sesudah pemilu tahun l955, terjadi perimbangan, di mana kekuatan Islam, seperti NU, SI, Perti,  yang dipimpin Partai Masyumi berhasil menciptakan perimbangan, dan mendapatkan dukungan suara hampir 50 persen, dibandingkan dengan partai-partai nasiolis-sekuler.
Sampai di akhir kekuasaan Presiden Soekarno, yang menjadi pendiri PNI, terus menghadapi tekanan yang kuat dari PKI, kemudian bergeser, menjadi lebih dekat dengan PKI. Akhirnya, menjadi lebih dekat kepada PKI dalam sejarah politik di Indonesia.
Sangatlah wajar bila kebijakan Presiden Soekarno, yang ketika menjadi presiden, kemudian mengikuti arahan PKI, yang condong kepada RRT atau Soviet. Soekarno menjadi "vanguard" (pelopor) dalam Gerakan Non-Blok, yang sangat vokal menentang Barat, yang disebut sebagai kekuatan penjajah atau kapitalis.
Sebagia selingan perubahan, lahir pemimpin baru di Indonesia, yang prototipe jenderal, yang kemudian dikenal sebagai "The Smilling General", yang mengubah kehidupan politik lama, selama zaman Soekarno, yang lebih dekat dengan Amerika Serikat.
Soeharto memillih instrumen politik, yang tak lain, kekuatan-kekuatan anti komunis, yang berubah menjadi Partai Golkar, dan kemudian menjadi pilar kekuasaannya. Selama tiga puluh tahun atau tiga dekade. Kekuatan Islam dimarginalkan, baik secara politik dan ekonomi oleh Soeharto.
Pertarungan antara kekuatan nasionalis-sekuler dengan kekuatan Islam, tak pernah sirna. Sekalipun, tidak menampakkan sosok, yang sangat kuat dari kalangan Islam, yang sudah ditukangi sejak zaman Belanda, sempai di era rezim Orde Baru dibawah Soeharto.
Sekarang, kekuatan nasionalis-sekuler, yang bentuknya seperti PDIP, Golkar, dan Demokrat, terus memperebutkan posisi kekuasaan dengan menggunakan instrumen partai politik, yang bertujuan menjalankan kekuasaan, yang ingin ditegakkannya. Tiga kekuatan ini terus memperebutkan posisi yang paling atas, sampai menjelang tahun 2014 nanti. Sekarang pertarungan itu, semakin begitu nampak.
Misalnya, PDIP yang menargetkan penguasaan politik di Jawa, yang merupakan basis pertarungan, yang akan menentukan sebuah kekuatan politik kalah atau menang. Hal itu, sudah berlangsung sejak zamannya Soekarno, di mana pertarungan itu berlangsung.
PDIP menginginkan menguasai daerah Jawa, secara total ingin dibawah kendali politik PDIP. DKI Jakarta telah dimenangkannya dalam pertarungan memperebutkan posisi  gubernur, yang dimenangkan oleh Jokowi-Ahok. Jawa Tengah, dimenangkan pasangan Bibit Waluyo-Sri Lustriningsih.
Sekarang yang menjadi pertaruhan Jawa Barat dan Jawa Timur, yang merupakan daerah paling padat penduduknya di seluruh Indonesia. Langkah strategis PDIP ini, memang guna meratakan jalan bagi kemenangannya di pemilu legislatif dan pemilihan presiden di tahun 2014 nanti.
Sebenarnya, di era reformasi ini kekuatan Islam bisa dikonsolidasikan, dan bisa menjadi kekuatan pengimbang bagi kekuatan nasioanalis-sekuler. Tetapi, semua itu tidak terjadi, karena faktor tidak adanya konsistensi ideologi gerakan dan  perjuangan, terutama dari tokoh-tokoh partai Islam, yang tergabung dalam partai-partai Islam sekarang ini. Partai-parti Islam secara ideologis dan konsistensi gerakannya melemah, dan sekarang menjadi model seperti partai nasionalis-sekuler.
Van Jorge, seorang penilit asal Amerika Serikat (CIA?), pernah melakukan penilitian, dan membuat diagram dalam bentuk piramida, di mana kutub yang paling kiri ditempati Partai PDIP dan kutub paling kanan ditempati oleh PK (PKS), dan piramida yang paling atas adalah Golkar.
Namun, sekarang menurut analisis baru, PKS yang mewakili kutub paling kanan, bergeser ke tengah, dan mendekati kutub paling kiri, yang secara ideologi lebih dekat dengan nasionalis-sekuler. Sementara itu, PDIP tetap pada posisinya sebagai partai yang berada di kutub paling kiri.
Sehingga, sekarang ini, kekuatan nasionalis-sekuler menjadi  lebih kokoh secara ideologis, dan dengan menggunakan kekuatannya terus membangun basis kekuatan idelologisnya dikalangan rakyat.
Sebaliknya, kekuatan partai-partai Islam berubah pragmatis dan oportunis secara idelogis, kehilangan pijakan, dan para pemimpin partainya mengalami "disorientasi ideologis", alias tidak jelas lagi jenis kelaminnya.
Partai-partai Islam tidak lagi dengan gigih, bertumpu dari akar atau dasar ideologi gerakannya dalam kontek perjuangannya, tetapi justeru menjadi komformis, dan kolaborator dengan rezim-rezim nasionalis-sekuler, dan hanya sekadar mengejar rente kekuasaan, dan tanpa ada keinginan memperjuangan ideloginya, yang ditransformasikan dalam bentuk platform perjuangan gerakannya.
Kalau melihat kebelakang, sungguh sangat menarik seorang tokoh seperti Sekarmaji Marijan Kartosuwirjo, seorang mahasiswa kedokteran,  mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, dan ingin memperjuangan serta menegakkan nilai-nilai Islam, kemudian rela mengorbankan jiwanya, di depan regu tembak.
Laki-laki yang kurus dan berwajah pucat itu, membangun kekuatan yang kokoh, dan sangat dicintai pengikutnya, karena kekokohannya dalam memegang keyakinan ideologinya, dan gigih memperjuangkannya, sampai seorang tokoh seperti Daud Beureuh, yang sangat terkenal di Aceh, bersedia berbai'at kepada Kartosuwirjo.
Seperti halnya Mohamad Natsir, yang menjadi pelajar di sekolah Belanda, dan nyaris akan berangkat ke Belanda, melanjutkan sekolah ke Belanda, tetapi takdir lain menentukannya, di mana Natsir bertemu dengan Ustad Hasan, seorang tokoh Persis, dan Natsir kemudian berguru kepada Ustad Hasan.
Perjumpaan antara Natsir dengan Ustad Hasan itu, kemudian bukan saja Natsir mampu menjadi tokoh pergerakan, tetapi Natsir menjadi seorang ideolog gerakan, dan berani berhujjah dengan para pemimpin nasionalis-sekuler termasuk dengan Soekarno,  ketika mempertahankan gagasannya yang ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara di Konstituante.
Kartosuwirjo kalah melawan Soekarno dan Natsir juga kalah melawan Soekarno. Gerakan model Kartosuwirjo melalui militer (DI/TII), mengalami kegagalan berhadapan dengan kekuasaan dan militer. Sedangkan model gerakan seperti yang dilakukan Natsir dengan parlemen, disiasati oleh  Soekarno, dan kalah.
Bagaimana formula yang harus diambil oleh Gerakan Islam, di masa depan dengan melihat pengalaman Kartosuwirjo dan Natsir? Apa yang harus diperjuangkan kalangan Islamis di masa depan, yang sekarang sudah kehilangan segalanya, terutama kepercayaan mereka terhadap nilai-nilai Islam, yang sangat luar biasa itu?
Di Timur Tengah seluruh rezim nasionalis-sekuler yang menjadi kroni Barat, semuanya berguguran seperti daun di musim gugur. Mereka semuanya pergi, dan digantikan oleh kalangan Islamis.
Tetapi, di Indonnesia kalangan Islamis berguguran, dan jatuh ketangan dan pelukan kaum nasionalis-sekuler, dan tidak lagi mampu melihat keatas (mendongak), karena sudah tidak lagi memiliki izzah di dalam diri mereka. Islam yang mulia itu mereka ganti dengan kepentingan duniawi, yang sangat sempit. Wallahu'alam.

No comments:

©