Monday, 22 October 2012

Cerdas Dengan Muhasabah



“Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya (muhasabah) serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt.” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan al-Hakim)
Subhanallah, di antara indikasi kecerdasan dalam pandangan Nabi saw tergambar pada karakter  manusia yang tidak lalai untuk menghisab dirinya, dan memperhatikan amal untuk masa depan, di Akhirat. Allah swt pun melegitiasi sabda ini dalam titah firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah  dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (al-Hasyr [59]:18)
Muhasabah tiada lain sebagai manifestasi realita yang pasti dihadapi setiap manusia, Allah swt berfirman, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (dihisab). (al-Isra [17]:36)
Muhasabah, bentuk mashdar dari hasaba-yuhasibu yang bermakna menghitung, memperhitungkan. Muhasabah dapat diartikan, perhitungan, memperhitungkan, introspeksi. Kata muhasabah yang bermakna introspeksi diri –dalam bahasa Arab—disandingkan dengan kata an-nafs adalah jiwa atau diri. Karena itu muhasabah an-nafs berarti memperhitungkan diri, evaluasi diri, atau introspeksi diri. Namun dalam terminologi bahasa Indonesia lebih dikenal dengan muhasabah.
Dalam presepsi urusan duniawi, muhasabah pun menjadi salah satu indikator orang cerdas. Pasalnya orang cerdas atau orang sukses selalu berusaha menghasilkan hari esok yang lebih baik. Dan, untuk itu ia selalu mengevaluasi hari kemarin, untuk disiasati direncanakan demi perbaikan hari esok. Namun dalam konteks muhasabah yang kita bicarakan sekarang adalah muhasabah dalam urusan ukhwari, tentang amal shaleh demi hari esok (di akhirat).
Muhasabah menjadi sangat urgen, mengingat bila seorang akrab, sering muhasabah, maka sejatinya ia tengah mempersiapkan diri untuk hisab yang hakiki di akkhirat (yaum al-hisab). Dengan muhasabah, hidup menjadi tertata berjuang untuk peningkatan kebaikan diri, sibuk dengan kelemahan dan kekurangan diri,  tidak sibuk mencari kelemahan orang lain. Urgensi muhasabah ditegaskan oleh Umar bin Khathab ra, “Hisablah diri kalian (di dunia) sebelum dihisab (di akhirat).” Terlebih lagi, kondisi iman yang yazid wa yanqush (bertambah dan berkurang), ditambah hadirnya setan dan syahwat yang mengganggu aktifitas iman dan amal, maka muhasabah menjadi jalan utama agar level pertambahan keimanan, dan eksis istiqamah di jalan Ilahi selalu aman terkendali.
Karena itu pula, muhasabah menjadi kebiasaan orang-orang shaleh. Seperti, pragmen  Umar bin khathab ra pernah memukul kakinya dengan sebuah besi sembari berkata, “Apa yang engkau persembahkan hari ini (amalan)?” Al-Ahnaf bin Qais ra pernah meletakan tangannya di atas api dan berkata, “Rasakan panasnya, bukankah engkau melakukan dosa ini pada hari itu?” Imam Bukhari ra pernah tertinggal shalat jamaah, maka ia menggantinya 27 kali shalat.
Muhasabah dapat dimulai dengan dengan membandingkan antara nikmat Allah azza wajalla dan kesalahan-kesalahannya dan antara kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukannya. Selanjutnya dapat dilakukan pasca melakukan amal keburukan, atau dengan agenda harian, bulanan, tahunan, dan lain sebagainya.
Imam Ibnu Qayyim pernah mengajarkan,  bahwa muhasabah diri dapat terealisasi dalam beberapa langkah berikut.
Pertama, mulai dalam amalan fardhu, jika melihat ada kekurangan, maka beruusahalah untuk melengkapinya, menyempurnakannya.
Kedua, perhatikan larangan-larangan Allah swt. Jika mengakui, merasa  melakukannya, maka  segeralah bertaubat, beristighfar dan melakukan amalan kebaikan yang dapat menghapuskannya.
Ketiga, mengintrospeksi diri atas kelalaian. Lalai dari melakukan yang sunah dengan lebih mementingkan yang mubah, misalnya. Langkahnya, mulai lakukan yang utama dari yang kurang utama, pentingkan wajib dari yang sunnah, sunnah dari yang mubah, dan seterusnya.
Keempat, introspeksi diri atas apa yang dilakukan anggota tubuh; lisan yang bicara, kedua kaki yang melangkah, perbuatan tangan, pandangan mata, pendengaran kedua telinga.
Bila kita telah membiasakan diri dengan muhasabah –baik harian, mingguan, bulanan, momentum ulang tahun, momentum ulang tahun pernikahan, dan lain sebagainya– maka yakinlah sejatinya kita tengan melangkah menuju manusia cerdas dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.
Terakhir, ingatlah sabda Nabi saw, “Pergunakan lima perkara sebelum lima perkara; hidupmu sebelum datangnya kematianmu, sehatmu sebelum datangnya sakitmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, masa mudamu sebelum datangnya masa tuamu, dan masa kayamu sebelum datangnya masa miskinmu.” (HR. Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi). “Esok (hari Akhir) adalah perhitungan dan tanpa amal (kesempatan beramal).” (HR. Bukhari). “Kami adalah umat yang terakhir, tapi yang pertama kali dihisab.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)
Bila Anda sudah merasa cerdas dengan asumsi-asumsi yang lain, saatnya bangun diri agar cerdas untuk akhirat, seperti pesan Nabi kita…cerdas dengan muhasabah diri.
Wallahu’alam

No comments:

©