Friday, 26 October 2012

Berkorban Apa Mereka Untuk Kita?


k-popOleh: Runni Nurul Inayah & Fathiyah Hayati
K-POP, mulai dari Suju alias Super Junior, SNSD, Girls Generation, Bigbang hingga single Gangnam Style atau boyband One Direction dari Inggris yang lagi in-in nya di kalangan generasi muda. Kesemuanya seakan menggurita di kalangan remaja hingga dewasa. Bahkan anak kecil pun ikut-ikutan kakak-kakak mereka.
Coba saja kita gunakan kata kunci di Google untuk mencari video atau biografi mereka. Kita ketik saja huruf g dan a maka di urutan ketiga tampil kata-kata gangnam style. Atau one direction, ketik saja huruf o maka di urutan ketiga atau keempat akan muncul kata-kata itu. Sangat familiar dan ini berarti sangat banyak yang mengakses dengan menggunakan kata kunci tersebut.
Siapa sih yang tidak kenal One Direction? Meskipun satu dari lima personilnya beragama Islam, tetap saja dia tidak mencerminkan sikap umat Islam yang meneladani Rasulullah SAW. Pakai tattoo, ditindik, pacaran pula. Hmm.
Kesemuanya seolah menjadi kiblat bagi remaja Indonesia. Para remaja dengan penuh kerelaan menabung hingga menyimpan seluruh uang jajannya, hanya untuk menyaksikan manusia biasa yang lebih beruntung mengoptimalkan kemampuannya. Mereka rela berdesakan di tribun paling belakang untuk menonton konser ‘artis favorit’ itu.
Menjerit-jerit sambil mengucapkan “I love you,” “I miss you,” atau yang lebih gila lagi hingga “be my boy.” Ada juga yang terjatuh pingsan, lupa makan sebelum berangkat lalu kehabisan energi karena terlalu lama menunggu dan berdiri. Miris.
Remaja khusunya remaja putri sangat mengagumi mereka, hingga saya sempat menemukan teman yang mengaku-ngaku pacaran dengan artis k-pop itu. Ah, padahal kenal saja tidak dengan mereka. Mereka juga tidak kenal dengan dirinya.
Padahal kalau kita teliti, mereka membutuhkan para fans untuk mendongkrak ketenaran saja. Kita yang menjadi fans juga tidak akan kecipratan apapun dari mereka. Apalagi sampai kepikiran bagi-bagi uang gitu? Mustahil.
Sekarang kita tanya pada diri kita masing-masing, kapan terakhir kali kita mengetik nama Nabi Muhammad SAW di situs pencarian? Mencari cerita tentang kedermawanannya atau hal lain dan segala seluk beluk tentang Rasulullah teladan kita umat Islam?
Mungkin jawabannya, “Kalau ada tugas,” atau “Waktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar.” Lama sekali ya? Apa kita masih ingat dengan lengkap dan detail tentang pemimpin umat terbaik sepanjang zaman ini?
Beliau yang saat menjelang sakaratulmaut, tidak sampai hati mengingat harta atau para istrinya. Yang beliau ucapkan hanya kata “Ummatii …(umatku…umatku…umatku).” Padahal beliau tidak pernah bertemu dengan kita yang jauh berabad-abad lamanya terpisah, tapi beliau memikirkan kita. Memikirkan nasib kita jika beliau meninggalkan dunia yang fana ini.
Masih ingat dengan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah merindukan saudaranya namun bukan bagian dari para sahabat.
Suatu ketika berkumpullah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian terucap dari mulut baginda yang sangat mulia: “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku).”
Suasana di majelis itu hening sejenak. Semua yang hadir diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Abu Bakar, itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihinya melontarkan pengakuan demikian.
“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mulai memenuhi pikiran.
“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Rasulullah bernada rendah.
“Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian beliau bersabda,
“Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (Hadits Muslim).
Begitulah kasih sayang Rasulullah kepada kita umatnya, beliau sangat merindukan kita. Hingga beliau pun siap untuk memberikan syafaat bagi semua umat-Nya, umat yang terus menghidupkan sunnah-sunnah Nya hingga akhir zaman.
Masih meragukan cinta Rasulullah kepada kita umatnya, yang beliau melihat kita sekalipun belum pernah? Padahal sekali lagi cinta beliau itu penuh dengan pengorbanan. Jika dibandingkan dengan para artis tadi, mereka belum berbuat apa-apa untuk kita selain hanya menghibur.
Kita justru yang memberi mereka lewat tiket konser, penjualan kaset dan yang lain lagi tapi sama sekali mereka hanya meni’mati hasil itu sendirian. Belum tentu memikirkan kita barang beberapa menit.
Jika berbicara teladan pun takkan bisa mengalahkan keteladanan yang diberikan Rasulullah. Meski mereka memiliki sisi baik untuk apa kita memilah-milah kebaikan jika dalam diri Rasulullah sudah Alloh sempurnakan kebaikannya.

Runni Nurul Inayah dan Fathiyah Hayati, mahasiswi UPI Kampus Purwakarta. Keduanya aktif mengisi keputrian dan da’wah sekolah di wilayah Kabupaten Purwakarta.

No comments:

©