Thursday, 18 October 2012

Apa yang Kita Makan Selama Ini


MAKANAN yang sehat, menghasilkan fisik yang sehat. Makanan yang tidak sehat, mengakibatkan sakit, mengundang penyakit. Kita tahu korelasi ini, hubungan ini, dan kebanyakan dari kita tidak banyak yang membantah, taat, kecuali orang-orang yang punya banyak keterbatasan–apa daya, makan saja sudah syukur.
Kita menghabiskan banyak waktu, usaha, untuk memastikan korelasi ini bekerja dengan baik. Kita, jika mengajak keluarga makan di luar, mengintip dulu apakah tempat makan itu oke atau tidak. Ramai atau tidak–kalau ramai, biasanya aman. Mendengarkan cerita dari orang lain, apalagi kalau Pak Bondan sudah bilang mak nyus, di layar kaca, langsung tancap gas, recommended.
Juga di rumah. Ibu-ibu memasak dengan mencuci bahan makanan. Piring, gelas, sendok, dicuci bersih. Sumber air dipastikan baik. Jika ada pembantu yang masak, diingatkan berkali-kali standar masakan keluarga. Kita semua peduli akan kesehatan makanan keluarga kita, bukan? Anak-anak yang jajan di luar selalu diingatkan, agar berhati-hati dan tidak sembarangan.
Kenapa? Karena ‘hukuman’ atas pelanggaran korelasi ini langsung terlihat. Iseng makan kue basi, atau lauk busuk, tinggal tunggu hitungan jam, perutnya melilit, sakit. Ngotot makan sambal banyak2, juga tunggu saja besoknya, terpaksa bolak-balik ke toilet. Juga makanan sembarangan, menyebabkan tipes, demam, dan sebagainya. Hukuman atas pelanggaran korelasi ini langsung nyata. Mau coba?
Nah, adakah yang mau peduli kalau korelasi makanan itu ternyata tidak hanya soal itu?
Karena ternyata ada korelasi lain. Yaitu: makanan yang baik sumbernya, halal memperolehnya, akan membuat kita ‘sehat’; sedangkan makanan yang buruk muasalnya, ‘haram’ cara mendapatkannya, akan membuat tubuh kita ‘sakit’, berpenyakit.
Dalam banyak riwayat yang sahih, bukankah ibadah kita ditolak mentah-mentah jika ada makanan haram yang masuk ke perut kita. Shalat siang malam, berdoa tiap menit, semua ditolak mentah-mentah. Bagaimana kita mau berharap diterima, tubuh kita ‘sakit’. Kita merasa bahwa kita sudah saleh sekali, rajin sekali beribadah, tapi semua kosong, tidak ada nilainya. Korelasi ini valid, tidak terbantahkan, silahkan cek hadist-hadist terkait. Tentu saja, itu benar, tidak seperti korelasi pertama sebelumnya, ‘hukuman’ atas pelanggaran korelasi ini tidak terlihat seketika. Tidak langsung dikirimkan, kita langsung ‘sakit’.
Meskipun demikian, menyadari bahwa korelasi ini sungguh valid, mulailah sejak sekarang kita memperbaiki apa yang kita makan. Pastikan kalau kita hanya mengunyah makanan dari sumber yg halal. Jangan rusak masa depan anak-anak kita dengan memberikan makanan yg buruk cara memperolehnya. Kabar baiknya, kita tidak perlu mengintip dapur, memastikan ramai tidak, atau mencari rekomendasi mak nyus tentang korelasi makanan kedua ini, kita cukup menilai diri sendiri, kitalah yang tahu persis apakah makanan yg disajikan utk diri sendiri dan keluarga diperoleh dr proses yg halal atau haram. Juga pakaian yg kita kenakan. Harta2 yang kita peroleh. Tinggal mengukur diri sendiri. Apakah pekerjaan kita halal, apakah cara memperoleh pekerjaan itu halal, apakah, dan apakah, silahkan dievaluasi sendiri.
Kapan korelasi kedua ini benar-benar membuat kita ‘sakit’? Kelak, di hari penghabisan. Karena, aduhai, bagai sembilu mengiris hati membayangkannya, berpuluh2 tahun kita terus beribadah, berpuluh2 tahun kita merasa baik2 saja, merasa sudah menabung begitu banyak kebaikan lewat ibadah, tapi ternyata kosong, semua ditolak. Kaget sekali melihat laporan tabungan tersebut, kemana larinya? Hanya karena makanan kita haram. Itu sungguh akan menyakitkan. Maka mari terus memupuk rasa takut. Takut kalau sumber makanan kita ada yang haram, jangankan satu piring, satu butir nasi pun amit-amit.
Darwis Tere Liye

No comments:

©